Rabu, 28 April 2010

APA ITU SEMANGAT?


APA ITU SEMANGAT?

Semangat dan gairah adalah perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang. Namun, tujuan utama membicarakan konsep semangat dalam buku ini ialah untuk me­ngu­ak perbedaan antara semangat yang dialami dalam masyarakat secara umum dan semangat yang dibicarakan dalam al-Qur’an kepada manusia.

Semangat, dalam pengertian umum, digu­nakan untuk mengungkapkan minat yang menggebu dan pengorbanan untuk meraih tujuan, dan kegigihan dalam mewujud­kan­nya. Apakah penting atau tidak, setiap orang punya tujuan yang ingin dia raih sepanjang hidupnya. Antusiasme, yang sering ditujukan untuk keuntungan material, juga mengemuka ketika nafsu keduniaan dibicarakan. Sebagian orang berusaha untuk menjadi kaya, untuk memiliki karir yang cemerlang atau jabatan yang prestisius, sementara yang lain berusaha untuk tampil lebih unggul atau untuk meraih prestise, penghormatan, dan pujian.

Sebagai contoh, setiap orang memahami tekad yang ditunjukkan oleh seorang siswa SMU untuk lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), antusiasme se­se­orang yang diterima untuk menduduki jabat­an yang diinginkan di sebuah perusaha­an, atau ambisi dan upaya yang dilakukan untuk menggolkan transaksi bisnis yang diharapkan akan sangat menguntungkan. Ada satu ciri umum yang menonjol dalam semua ini — antusiasme menimbulkan karakter kuat dan khas pada seseorang yang kecil kemung­kin­annya akan muncul jika tidak ada sema­ngat. Risiko-risiko yang dalam keadaan normal dihindari akan diambilnya demi mewujudkan suatu tujuan. Pengorbanan diri yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dilakukan tanpa ragu-ragu. Memang, orang mungkin akhirnya memperoleh kekuatan yang besar baik dalam pengertian material dan spiritual dengan menggunakan penge­tahu­annya dan kemampuannya secara mak­simal.

Namun, semangat sebagian besar orang tidak bertahan seumur hidup karena tidak punya landasan yang kuat. Sering kali tidak ada tujuan khusus yang akan mempertahan­kan semangat dalam semua keadaan dan memberikan kekuatan kepada mereka. Satu-satunya orang yang tidak pernah kehilangan semangat di hati mereka sepanjang hidup adalah orang-orang beriman, karena sumber semangat mereka ialah keimanan kepada Allah dan tujuan utama mereka ialah mem­per­oleh keridhaan Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya.

Sebelum meneruskan pembicaraan tentang masalah ini, akan sangat membantu jika kita mendefinisikan konsep semangat yang me­non­jol di masyarakat Jahiliah, di mana orang tidak mengenal al-Qur’an atau hidup dengan­nya.

KONSEP GAIRAH DALAM MASYARAKAT JAHILIAH

¨ Siapa yang Termasuk Anggota

Ma­sya­rakat Jahiliah?

Kebodohan biasanya dipahami sebagai tak berpendidikan dan tak berbudaya. Namun, orang-orang bodoh yang digambarkan sepan­jang buku ini adalah mereka yang bodoh me­ngenai agama Islam, mengenai kebesaran dan Sifat-sifat Allah yang menciptakan mereka, dan mengenai al-Qur’an yang telah diwahyu­kan untuk umat manusia. Orang-orang seperti itu hidup sesuai dengan informasi yang didiktekan kepada mereka oleh masyarakat yang sarat miskonsepsi, dan bukannya fakta-fakta yang terdapat dalam al-Qur’an. Allah mendefinisikan orang-orang bodoh sebagai­mana mereka “agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (Q.s. Yasin: 6).

Kehidupan orang-orang yang lalai dari al-Qur’an dan tidak mengetahui hakikat kehi­dupan dunia, kebenaran tentang mati, dan pengalaman surga dan neraka setelah mati adalah cocok dengan kebodohan mereka. Akibatnya, masalah-masalah yang membuat mereka merasa bahagia, bersemangat dan bergairah didasarkan pada keyakinan yang salah.

¨ Orang-orang yang Bodoh Hanya Ber­gai­rah Mengenai Tujuan-tujuan Keduniaan

Mereka yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan ke­hi­dupan dunia telah menipu mereka.” (Q.s. al-A‘raf: 51).

Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat di atas, orang-orang dalam masyarakat jahiliah tertipu oleh kehidupan dunia ini. Meskipun tahu mengenai sifat kehidupan dunia yang singkat dan tidak sempurna, mereka lebih menyukai kehidupan yang sementara ini daripada kehidupan abadi di akhirat, karena mereka merasa lebih mudah untuk memper­oleh kesenangan dunia dan ragu mengenai kehidupan akhirat. Alasan yang salah ini meng­­anggap bahwa dunia berada dalam jangkauan mereka, sementara akhirat jauh sekali.

Ini jelas merupakan jenis penalaran yang sangat dangkal dan irasional. Bagaimanapun, kehidupan manusia di dunia ini terbatas pada periode waktu yang sangat singkat. Kehidup­an manusia yang hanya enam atau tujuh puluh tahun, separonya dihabiskan di masa kanak-kanak dan kehidupan lanjut usia, jelas sangat pendek dibandingkan dengan kehi­dup­an abadi di akhirat. Di samping itu, bah­kan sebelum mencapai usia enam atau tujuh puluh tahun, orang mungkin sudah mati karena berbagai alasan. Setiap saat dia bisa mendapati kehidupannya, yang dia anggap berada dalam genggaman tangannya, tiba-tiba dicabut, dan mungkin, pada waktu yang tak diduga-duga, mendapati dirinya telah masuk ke kehidupan abadi di akhirat, meskipun selama ini dia menganggapnya sangat jauh.

Orang-orang bodoh dan yang lalai ber­usaha untuk mencari kepuasan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan dunia, selama periode waktu yang singkat ini, ketimbang berusaha untuk memperoleh ridha Allah dan surga-Nya. Akibatnya, masalah-masalah mem­­­berinya semangat terbatas pada tujuan-tujuan kecil menyangkut dunia ini. Faktanya, perasaan yang mereka bayangkan sebagai semangat dan gairah tidak lain adalah kera­kusan. Mereka, yang sangat bergairah menja­lani kehidupan ini, merasakan kegai­rah­an besar terhadap segala sesuatu dimana mereka mengharapkan akan memperoleh ke­untung­an dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Maka, orang merasakan hasrat kuat untuk menjadi kaya atau memiliki status atau karir yang prestisius. Untuk mencapai tujuan sema­cam itu mereka melakukan semua bentuk pengorbanan diri dan menahan segala kesulit­an.

Kehidupan sehari-hari orang-orang ini ter­ikat dengan kejadian-kejadian yang mengung­kapkan pemahaman mereka tentang sema­ngat. Sebagai contoh, untuk memperoleh diploma, prestisius yang akan membuat diri­nya memperoleh pengakuan, seorang maha­sis­wa mungkin menenggelamkan diri­nya di tengah buku-buku selama bertahun-tahun. Sadar bahwa ini kondusif bagi keberhasilan, dia rela menghabiskan malam-malam tanpa tidur dan menghindari pergaulan, jika perlu. Hari-harinya dimulai dengan suasana pagi di kendaraan umum yang sesak dan dihabiskan dalam usaha keras, dimana dia menerima dengan senang hati. Namun, dia menolak untuk melakukan pengorbanan yang sama untuk membantu seorang teman karena hal itu tidak memberikan keuntungan duniawi. Apa yang digarisbawahi di sini ialah, bahwa meskipun sebagian besar orang tahu bagai­mana menye­lesai­kan suatu tugas dengan sema­ngat dan gairah, mereka hanya akan melakukannya jika tugas itu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka tidak memper­lihatkan ambisi yang sama untuk sesuatu yang akan mendatangkan ridha Allah, dan mem­per­lihatkan ketidak­mau­tahuan jika ke­untung­an duniawi tak bisa diharapkan.

Mentalitas jahiliah ini, yang hanya di­da­sar­kan pada keuntungan duniawi, dapat digambarkan dengan contoh berikut ini. Seorang eksekutif yang perusahaannya di ambang kebangkrutan mencurahkan seluruh energinya, pengetahuannya, sarana dan waktunya untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi karyawannya tidak merasakan kegai­rah­an yang sama untuk menyelamatkan per­usahaan dan kecil kemungkinannya untuk mencari solusi karena dia bukan orang yang akan mengalami kerugian langsung ketika perusahaan bangkrut. Sebagaimana terlihat, keuntungan duniawi umumnya melandasi semangat dan tekad yang dirasakan oleh para anggota masyarakat jahiliah. Sebesar mana keuntungannya, sebesar ambisi yang mereka miliki.

¨ Gairah Para Anggotanya Hanyalah Ke­inginan Sementara

Konsep semangat dalam masyarakat jahi­liah terlihat dalam kegairahannya dalam urusan keduniaan. Orang-orang mungkin mengalami gejolak minat dan semangat terha­dap masalah tertentu dan kemudian suatu hari perasaan ini lenyap dengan tiba-tiba. Dalam masyarakat jahiliah hampir semua orang meluncurkan berbagai proyek dengan antu­sias. Namun, mereka mening­galkan proyek itu tak lama kemudian, hanya karena jenuh dan malas untuk melanjutkan. Sebagai con­toh, sebagian besar orang yang ingin bermain musik segera kehilangan minat dan mening­galkan kursus. Seseorang yang ingin mem­bantu orang yang membutuhkan dan segera memulai kerja amal, tak lama kemu­dian, mungkin ia akan kehilangan semangat dan meng­hen­tikan pekerjaannya. Karena orang-orang semacam itu tidak benar-benar berpe­gang pada cita-cita mulia, membantu orang miskin, melakukan perbuatan baik atau mem­perluas wawasan dalam bidang tertentu ter­bukti hanya merupakan tingkat sesaat. Meng­habiskan hidup sehari-hari, dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang dekat, dan memperoleh penghargaan orang lain sering sudah cukup untuk memuas­kan orang-orang ini. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dari itu yang bermakna bagi mereka. Karena itu, mereka kadang-kadang memberikan per­hatian pada beberapa masa­lah yang tidak ber­kaitan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri, tetapi tak lama kemudian kepentingan mereka dikalah­kan oleh keje­nuh­an dan kemonotonan.

Selama orang percaya usahanya akan mem­berikan kebaikan dan keuntungan baginya, semangat dan gairahnya tidak pernah padam. Namun tidak satu pun tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang melalaikan akhirat tidak layak untuk diberi semangat terus-menerus. Jika menjumpai kesulitan sedikit saja, kegagalan atau kritik, dia mungkin tiba-tiba merasa letih dan meninggalkan tujuan­nya. Di samping itu, dia mungkin menjadi putus asa. Pemikiran negatif seperti, “Saya sudah bersusah-payah untuk mencapainya tetapi gagal,” menyeret dia ke dalam pesi­misme dan memadamkan semangatnya.

Orang yang telah bertahun-tahun memen­dam ambisi untuk menjadi seorang arsitek mungkin tiba-tiba kehilangan semangat ketika dia menjumpai kesulitan-kesulitan dalam menggambar bangunan. Atau orang yang tertarik untuk melukis mungkin kehi­lang­an semua minatnya setelah beberapa kali mencoba. Sering kali, komitmen mereka yang terlibat dalam kerja sukarela di organisasi amal dipuji di koran-koran dan oleh teman-temannya. Kesenangan yang diperoleh dari melakukan kerja amal, perasaan senang yang ditimbulkan oleh prosedur kerja itu, mungkin menarik orang lain. Namun, mereka yang terlibat dalam kerja amal untuk memperoleh prestise di masyarakat mungkin kehilangan minat setelah beberapa lama, dan satu-satu­nya cara untuk mempertahankan sema­ngat ialah menjadikan usaha mereka dike­tahui publik dan memujinya. Yakni, mereka harus menerima manfaat, sekalipun manfaat psiko­logis; kalau tidak, bahkan bangun pagi di akhir pekan terasa sulit dan menjadi alasan untuk meninggalkan kegiat­an-kegiatan seperti itu.

Namun, orang-orang beriman, yang ter­libat dalam perbuatan baik dan membantu orang lain sebagai alat untuk memperoleh ridha Allah, tidak pernah kehilangan sema­ngat mereka. Menghadapi kesulitan tidak akan membuat mereka meninggalkan cita-cita mereka. Sebaliknya, karena tahu bahwa ada­nya kesulitan-kesulitan menjadikan pekerjaan semacam itu lebih prestisius di mata Allah, mereka memperoleh kesenangan dan merasa­kan semangat yang lebih besar.

SEMANGAT ORANG-ORANG BERIMAN

¨ Sumber Semangat Orang-orang Beriman: Iman, Cinta, dan Takwa Mereka kepada Allah

Semangat dan gairah orang-orang beriman sangat berbeda dari konsep yang banyak dianut masyarakat jahiliah, yang didasarkan pada kepentingan. Kecintaan orang-orang beriman kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya adalah penyebabnya. Mereka tidak merasa terikat dengan kehidupan dunia ini seperti para anggota masyarakat jahiliah, tetapi terikat dengan Allah, Yang Maha Penga­sih, yang menciptakan mereka dari bukan apa-apa, dan memberi mereka berbagai sarana. Alasan yang terpenting ialah bahwa orang-orang beriman mengevaluasi peristiwa-peristiwa dengan kesadaran yang jernih. Mereka sadar bahwa Allah menjaga kehidup­an seseorang setiap saat, bahwa Dia melin­dungi semua makhluk, dan bahwa semua makhluk bergantung kepada-Nya. Disebab­kan oleh cinta mereka dan ketaatan mereka kepada Allah, mereka berusaha keras untuk memperoleh keridhaan-Nya sepanjang hidup mereka. Hasrat untuk memperoleh ridha Allah merupakan sumber terpenting sema­ngat dan kegembiraan bagi orang-orang beriman. Cita-cita untuk memperoleh ridha Allah dan mencapai surga menjadi sumber energi dan semangat dalam diri orang-orang beriman.

¨ Semangat Orang-orang Beriman Tidak Pernah Padam

“Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi membela agama Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. al-Hujurat: 15).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa sema­ngat orang-orang beriman bersemayam dalam hati. Hal ini disebabkan karena perjuangan untuk mendukung nilai-nilai mereka berlang­sung seumur hidup dan hanya dito­pang dengan semangat yang bersumber pada ke­iman­an. Kegigihan orang-orang beriman dalam usaha mereka yang terus menerus juga dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw: “Per­buatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dilakukan dengan istiqa­mah.” (H.r. Bukhari).

Faktor lain yang membuat semangat orang-orang beriman tetap kuat dan segar adalah rasa penghargaan yang disertai dengan kerinduan dalam hati mereka, yang mereka alami sepanjang hidup:

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-A‘raf: 56).

Makna dari “Rasa takut dan harapan” ialah sebagai berikut: Orang beriman tidak pernah dapat yakin apakah Allah ridha dengan mere­ka, dan apakah mereka telah mem­perlihatkan perilaku moral yang baik, yang membuat mereka layak mendapatkan surga. Karena alasan ini mereka takut akan hukuman Allah dan terus-menerus berusaha untuk menyem­pur­nakan moral. Semen­tara itu, mere­ka tahu bahwa melalui gairah dan ketulusan, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh ridha Allah, cinta-Nya dan rahmat-Nya. Mereka mengalami ketakut­an dan harapan sekaligus; mereka bekerja keras tetapi tidak pernah merasa usaha mereka cukup dan tidak pernah menganggap diri mereka sempurna, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Mereka takut kepada Tuhannya dan takut dengan hisab (perhitungan amal) yang buruk.” (Q.s. ar-Ra‘d: 21).

Karena itu, mereka memeluk agama Allah dengan semangat besar dan melakukan usaha besar untuk kepentingan ini. Rasa takut kepada Allah menyebabkan mereka tidak lemah-hati atau lalai, dan perasaan ini mendu­kung semangatnya. Karena tahu bahwa Allah memberikan kabar gembira tentang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, sehingga mendorong mereka untuk terus ber­amal dan memperkuat komit­mennya.

Sebagaimana terlihat, konsep orang ber­iman tentang semangat sangat berbeda dari konsep masyarakat jahiliah. Dibandingkan dengan semangat kontemporer orang-orang kafir, semangat orang beriman merupakan luapan kegembiraan yang dipelihara oleh iman kepada Allah. Dia telah memberikan kepada orang-orang beriman kabar gembira tentang hasil dari semangat yang terus-me­nerus dalam al-Qur’an:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepa­da orang-orang mukmin, bahwa sesung­guh­nya mereka memperoleh karunia yang besar dari Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 47).

¨ Mereka Lebih Dahulu Berbuat Kebaikan

Iman dan ketaatan seseorang kepada Allah tidaklah sama. Allah telah menyatakan bahwa dalam hal keimanan, orang-orang beriman itu memiliki tingkatan-tingkatan tertentu:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih dian­tara hamba-hamba Kami, lalu diantara mere­ka ada yang menganiaya dirinya sendiri dan diantara mereka ada yang per­tengahan dan diantara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Q.s. Fathir: 32).

Apa yang memberikan kekuatan kepada mereka yang “lebih dahulu” ialah ketaatan mereka kepada Allah dan kerendahan hati mereka di hadapan-Nya. Keimanan mereka yang tulus memberi mereka semangat yang besar untuk berlomba-lomba dalam memper­oleh ridha Allah. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka yang berusaha dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka akan diberi derajat yang tinggi di sisi Allah:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad demi membela agama Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah men­jan­ji­kan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Yaitu beberapa derajat daripada-Nya am­pun­an serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nisa’: 95-6).

Mereka yang “pertengahan” adalah orang-orang yang lebih memilih jalan tengah daripada berusaha keras dengan hati dan jiwa mereka untuk memperoleh ridha Allah. Tak diragukan lagi, kondisi mereka di akhirat tidak akan sama dengan mereka yang lebih dahulu dalam beramal.

Di samping itu, Allah telah menyebutkan kelompok ketiga di kalangan orang-orang Islam: mereka yang tertinggal dalam hal gairah mereka untuk beramal.

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa’: 72).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat yang dikutip sebelumnya dari Surat Fathir, orang-orang semacam itu menganiaya diri mereka sendiri, dan keadaan mereka di akhirat akan mencerminkan perbedaan itu. Sementara mereka yang lebih dahulu dalam beramal akan memperoleh derajat tertinggi dalam pandangan Allah, tetapi mereka yang lalai akan melihat usaha mereka hilang kecuali jika mereka bertobat dan mengganti kelalaiannya. Dua ayat dari al-Qur’an dapat dikutip sebagai contoh tentang masing-masing keadaan:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad demi agama Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. at-Taubah: 20).

“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan pahala amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. al-Ahzab: 19).

USAHA SETAN UNTUK MEMATAHKAN

SEMANGAT ORANG BERIMAN

Di halaman-halaman sebelumnya telah dinyatakan bahwa semangat orang beriman tidak pernah padam dan selalu segar dan kuat dan bahwa sumber keberlangsungan dan kegigihan gairah orang beriman adalah iman yang tulus. Karena itu, setan berusaha keras untuk mem­perlemah tekad orang beriman dan meng­go­yahkan gairah dan semangat mereka. Tujuan setan di dunia ini ialah menipu orang dan men­­­dorong mereka kepada kehancuran dengan membisikkan saran-saran. Misi jahat setan diceritakan dalam al-Qur’an berikut ini:

“Dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong.” (Q.s. an-Nisa’: 119).

Setan mendekati orang-orang beriman dengan berbagai cara, sebagaimana dilakukan terhadap semua orang, dan berusaha untuk menjadikan hal-hal yang baik tampak salah. Dengan menggambarkan masalah-masalah sebagai tak terpecahkan, setan ingin mema­ling­kan manusia dan mencegah mereka untuk menyelesaikan amal yang baik. Dia berusaha untuk membisikkan keputusasaan, dengan mengemukakan bahwa tugas mereka sulit, dan dia menggoda agar lalai, mendorong untuk putus asa dan menginginkan mereka memper­li­hatkan kehendak yang lemah. Namun, al-Qur’an menekankan bahwa semua usaha setan dan rekayasanya gagal:

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal apa yang di­janjikan setan hanyalah tipuan belaka.” (Q.s. an-Nisa’: 120).

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa’: 76).

Mereka yang dilukiskan al-Qur’an sebagai orang-orang yang tidak punya keimanan yang utuh dapat dengan mudah jatuh ke dalam perangkap setan, karena mereka tidak meng­gunakan ilmu dan kesadaran. Orang-orang semacam itu mengaku memiliki iman, tetapi tidak pernah merasakannya jauh di kedalam­an hati mereka. Panggilan setan dan gaya hidup yang disodorkan tampak menggi­urkan, sehingga mereka meng­ikutinya dengan senang. Namun, seba­gai­mana biasanya, setan hanya menipu orang-orang supaya jatuh ke neraka, tempat hukum­an abadi. Orang-orang beriman tahu bahwa tipu daya setan itu lemah dan mereka juga tahu jenis tipu daya yang digu­nakan setan ketika mendekati mereka. Mereka tahu cara-cara untuk mengalah­kan­nya dan tidak pernah membiarkan setan mematahkan semangat karena mereka mem­ben­tuk kehidupan mere­ka sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Sikap tegas dan tulus orang beriman digambarkan sebagai berikut:

“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Q.s. al-A‘raf: 200-1).

Orang-orang beriman meminta perlin­dung­an kepada Allah dari semua kerusakan, dan dengan demikian, tidak terpengaruh oleh bisikan setan yang mendorong mereka kepada kemalasan dan kecerobohan. Sebuah contoh tentang doa orang beriman dan per­mintaan perlindungan kepada Allah tampak dalam doa Nabi Muhammad saw.: “Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu dari kesedihan, dari kegagalan dan kemalasan, dan dari beban utang dan dari dikuasai oleh manusia.” (H.r. Bukhari-Mus­lim).

JENIS-JENIS PERILAKU YANG MENUNJUKKAN GAIRAH ORANG-ORANG BERIMAN

Keunggulan orang yang memiliki keiman­an yang teguh di hatinya tampak dalam setiap waktu yang dihabiskannya, setiap sikapnya, dan setiap kata yang diucapkannya. Ke­gai­rahan iman ini melahirkan kesempurnaan dalam perilaku, sehingga orang-orang ber­iman lainnya yang memiliki gairah yang sama di hatinya segera mengenali semangat yang dihasilkan dari keimanan dan ketaatan kepada Allah. Orang-orang yang tidak ber­iman juga melihat semangat, komitmen dan kekuatan spiritual orang-orang beriman. Namun, mereka tidak pernah melihat sumber komit­men ini, karena mereka tidak mengakui agama yang sejati, atau tahu bagaimana cara bersandar hanya semata kepada Allah. Meski­pun orang-orang yang tidak beriman tidak dapat menunjukkan sumber­nya, mereka melihat jenis karakter pemberani dari orang-orang beriman yang tidak terlihat pada orang lain.

Jenis-jenis perilaku yang menunjukkan gairah sangat penting bagi orang-orang ber­iman, karena mustahil untuk membuat kepu­tusan tegas mengenai keunggulan agama lain dan kedekatannya dengan Allah. Hanya Allah yang tahu pasti mana orang yang me­miliki iman yang dalam dan mana yang muna­fik, tetapi Dia telah memberikan petun­juk, yakni gairah dan semangat di dalam diri orang-orang beriman untuk memperoleh keridhaan Allah dan untuk hidup sesuai tuntunan agama-Nya. Dengan cara ini orang dapat dengan mudah mengidentifikasi mereka yang punya iman yang sesungguhnya, yang telah mengabdikan diri untuk Allah. Demikian pula, dia akan melihat kelemahan orang-orang yang tidak beriman, kelalaiannya sangat mencolok ketika dibandingkan dengan semangat orang-orang beriman, sebagaimana dia dapat me­lihat orang-orang yang kuat dan bisa di­andal­kan diantara orang-orang ber­iman. Orang-orang beriman dapat meraih kesem­patan untuk memperkuat keimanan orang-orang yang memiliki semangat yang rendah.

¨ Setia kepada Allah sampai Akhir Hayat

Sepanjang hidupnya orang menjumpai berbagai peluang yang mendatangkan ke­untungan material atau psikologis bagi mere­ka. Ketika mereka memperoleh kesempatan seperti itu, sebagian besar orang mening­gal­kan apa pun yang mereka anggap penting sam­pai waktu itu, bahkan teman karib, dengan harapan untuk memperoleh keun­tungan. Tujuan-tujuan yang dengan antusias mereka kukuhi tiba-tiba menjadi tidak ber­makna bagi mereka — tujuan-tujuan yang mereka telah berjanji tidak akan melepas­kan bagaimanapun keadaannya. Tidak adanya kese­tia­an sejati adalah penyebab sikap tak konsis­ten ini.

Satu-satunya orang yang hidup dengan kesetiaan sejati dalam pengertian yang sebe­narnya adalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan berjanji akan tetap setia kepada-Nya. Mereka tahu tidak ada apa pun di muka bumi yang lebih berharga daripada memperoleh keridhaan Allah, karena mereka telah paham bahwa satu-satunya yang patut ditaati ialah Allah Yang Maha Besar. Komit­men orang-orang beriman dilukiskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka dian­tara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janji­nya.” (Q.s. al-Ahzab: 23).

“(Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (Q.s. ar-Ra‘d: 20).

Kesetiaan orang-orang beriman kepada Allah tampak dalam kesungguhan komitmen mereka pada Islam. Memang, tidak ada keun­tungan duniawi, tidak ada kepentingan ma­terial atau lainnya dapat menggoda mereka untuk meninggalkan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Allah. Dan tidak ada yang lebih menarik hati mereka kecuali memper­oleh ridha Allah. Kesetiaan mendo­rong mere­ka untuk terus bekerja bagi agama dan mela­kukan perbuatan baik dengan gairah, sebagai­mana ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam’.” (Q.s. al-An‘am: 162).

Dan Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan memberikan balasan bagi orang yang bertakwa:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Ahzab: 24).

¨ Melakukan Perbuatan yang Paling Diri­dhai Allah

Melalui ayat-ayat al-Qur’an, Allah me­nyam­­­paikan kepada manusia jenis moral dan cara hidup yang diridhai-Nya. Hanya orang-orang beriman yang mau mematuhi perintah Allah dengan cara yang terbaik. Bahkan ketika mereka memiliki pengetahuan tentang­nya, sebagian besar orang mengabaik­an gaya hidup yang diridhai Allah karena mereka tidak punya tujuan untuk menye­nang­kan-Nya. Sebaliknya, orang-orang ber­iman ber­usaha untuk mematuhi setiap ayat dalam al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan tidak ada konsesi dalam masalah ini. Bah­kan ketika mereka menghadapi situasi yang bertentang­an dengan kecenderungan duniawi mereka, mereka tidak menampakkan sedikit pun keta­kutan; sebaliknya, mereka meme­nuhi tugas-tugas sulit dengan gairah besar sepan­jang hidup mereka.

Yang menunjukkan gairah orang-orang beriman untuk mendapatkan ridha Allah ialah usaha mereka untuk menyenangkan Allah. Ketika seorang beriman menjumpai beberapa pilihan, dia memilih yang paling disukai Allah. Dia mendasarkan keputusan­nya pada kriteria yang ditetapkan al-Qur’an, Sunah dan kemudian hati nuraninya. Dalam al-Qur’an, Allah memberi tahu orang-orang beriman tentang cara hidup yang paling baik dalam pandangan-Nya dan menjelaskan kepada mereka perilaku yang paling menye­nang­kan-Nya. Karena itu sepanjang hidup­nya, orang-orang beriman dibimbing oleh hati nurani yang senantiasa menyarankan tindakan terbaik dan paling benar. Diantara banyak pilihan, hati nurani mengarahkan manusia ke jalan yang benar yang didasarkan pada pengetahuan dari al-Qur’an.

Berikut ini adalah contoh petunjuk Allah dalam masalah tersebut:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (Q.s. al-Isra’: 53).

Allah memerintah manusia untuk meng­ucapkan “perkataan yang lebih baik” kepada satu sama lain. Mengucapkan kata yang baik adalah suatu tindakan yang akan memperoleh ridha Allah. Namun, mengucapkan “perka­taan yang lebih baik” adalah yang paling di­ridhai Allah dan menambah balasannya karena Allah memberi tahu kita bahwa itu merupakan amal yang paling baik.

Demikian pula, Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa perbuatan jahat bisa dibalas dengan perbuatan yang setimpal dengannya. Namun, Allah juga menyuruh kita untuk me­lihat fakta bahwa memaafkan dan memper­lihatkan sikap yang baik guna memperbaiki moralitas orang yang berbuat salah adalah lebih baik:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka paha­lanya atas (tanggungan) Allah. Sesung­guhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.s. asy-Syura: 40).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat itu, membalas kejahatan dengan kejahatan adalah tindakan yang sesuai dengan hukum Allah. Namun, memaafkan adalah tindakan yang lebih baik dan mendorong orang untuk mem­peroleh ridha Allah. Dalam suatu situasi di mana orang dapat melaksanakan haknya, ber­usaha untuk mengendalikan kemarahan dan memaafkan orang yang berbuat salah adalah pertanda kesempurnaan moral. Itu karena orang menolak untuk mematuhi ke­inginan nafsunya dan menampakkan kesa­baran yang mulia demi memperoleh ridha Allah. Ayat berikut ini menyatakan:

“Tetapi orang yang bersabar dan mema­afkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diuta­makan.” (Q.s. asy-Syura: 43).

Perbedaan dengan orang-orang yang me­miliki gairah kuat terlihat dari sikap mereka yang selalu memilih yang terbaik. Apa pun keadaannya, mereka memperlihatkan tekad untuk melakukan yang paling disenangi Allah. Sebagai balasannya Allah memberi mereka kabar baik bahwa Dia akan menun­jukkan mereka kepada keselamatan:

“Dengan Kitab itulah Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menun­jukan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. al-Ma’idah: 16).

¨ Mengutamakan Kepentingan Agama daripada Kepentingan Mereka Sendiri

Seperti disebutkan sebelumnya, sebagian besar orang dalam masyarakat jahiliah ber­usaha untuk memperoleh keuntungan dari masyarakat tempat mereka tinggal melalui hubungan personal, dan bahkan dari teman-teman karibnya. Jika terjadi konflik kepen­tingan, mereka tidak pernah ragu untuk mendahulukan kepentingan mereka sendiri dan, dalam sekejap mata, dapat dengan mudah mengorbankan orang lain bahkan kawannya sendiri. Itu karena mereka mengutamakan diri mereka ketimbang apa pun dan siapa pun.

Namun, situasinya berbeda bagi orang-orang beriman. Mereka tidak menetapkan tujuan-tujuan individual dan dengan demi­kian tidak berkonsentrasi hanya pada kepen­tingan pribadi tetapi mempertimbangkan kepentingan orang beriman lain dan Islam. Memang, ketika kepentingan orang beriman dan Islam dipenuhi, kepentingan mereka sendiri akan terpenuhi. Mereka tidak dikuasai oleh kepentingan duniawi, tetapi yang terpen­ting bagi mereka dalam hidup ini ialah untuk memperoleh perilaku yang paling menye­nang­­kan Allah, karena itulah yang akan ber­guna bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. Mereka yang memiliki jenis men­talitas ini selalu bekerja untuk kepen­tingan Islam dengan penuh gairah.

Pada titik ini perlu dijelaskan apa itu “ke­pen­tingan” Islam. Allah mewahyukan agama-Nya kepada semua orang sebagai petunjuk di atas jalan lurus. Menyampaikan kepada orang keyakinan dan amal agama dan kebahagiaan yang muncul dari moralitasnya ditambah dengan semua keuntungan spiritual dan mate­rialnya merupakan kewajiban semua orang beriman. Mereka memenuhi kewajiban ini dengan memberi contoh bagaimana hidup dengan prinsip-prinsip al-Qur’an dan dengan menyampaikan kepada manusia melalui kata atau menyebarkan publikasi yang relevan. Orang beriman menganggap mengajak satu orang kepada keselamatan abadi merupakan bentuk ibadah yang penting. Ini merupakan aspek utama dari “kepentingan” Islam. Dalam bidang-bidang yang berkaitan dengan penca­paian perdamaian sosial dan individual dan pen­cegahan imoralitas, kesengsaraan dan ketidakadilan, orang-orang beriman menge­sam­pingkan kepentingan mereka sendiri. Pendekatan ini diambil dari sabda Nabi Mu­hammad saw: “Engkau tidak akan benar-benar beriman sampai hawa nafsunya disan­dar­kan kepada agama yang aku bawa.” (An-Nawawi, Hadis No. 41).

Dalam situasi-situasi seperti itu orang beriman mungkin mencela hak mereka sendiri. Ketika mereka harus mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai kesalahan konsepsi; mereka mungkin mende­finisikan sikap orang beriman ini sebagai “ketololan”.

Ada sebagian orang yang berpikir sesuai dengan kondisi masyarakat dan akan berkata, “Apakah anda orang yang akan me­nye­lamatkan dunia?” Namun, berbeda dari yang mereka bayangkan, orang beriman tidak meng­abaikan kepentingan pribadi demi kepentingan akhirat; mereka mengharapkan balasan pengorbanannya dari Tuhan. Karena alasan ini mereka rela ber­korban untuk Islam, menyampaikan pesan moral yang baik dan mengajak orang kepada keselamatan abadi. Allah memberikan kabar baik bahwa sebagai balasan bagi tekad kuat mereka Dia akan mem­beri mereka balasan yang lebih baik dan lebih tinggi. Akibatnya, seseorang yang mengesampingkan kepenting­an pribadi dan memenuhi kepentingan agama sebenarnya memperoleh manfaat yang paling baik, baik di dunia maupun di akhirat. Itu karena mela­lui usaha sungguh-sungguh dia memperoleh keridhaan Allah dan kehidupan yang baik di dunia ini. Mengenai ini Allah berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri ba­lasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka ker­jakan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

Kita dapat melihat perilaku orang beriman dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, orang beriman tidak ragu untuk me­ngesampingkan bisnis yang meng­un­tung­kannya, agar dia dapat terlibat dalam tugas lain tanpa imbalan keduniaan jika dia percaya hal itu akan lebih menyenangkan Allah. Demi­ki­an pula, dia akan mudah mengeluarkan uangnya yang telah dia simpan guna membia­yai proyek amal yang dirancang untuk me­nyam­paikan pesan-pesan moral al-Qur’an kepada umat manu­sia. Sebagaimana tampak dalam contoh, seorang beriman yang gigih segera menge­sam­pingkan kepentingan priba­di­nya dan meng­abdikan diri untuk kepen­tingan agama tanpa ragu.

Kesadaran seseorang untuk mengabaikan hak-haknya dalam situasi tertentu berkaitan dengan kesadarannya, bahwa apa yang dia laku­kan merupakan sesuatu yang besar imbal­annya dan bukan suatu kerugian. Dia mung­kin mengabaikan kontrak yang mengun­tungkan, dan bahkan, menimbulkan kerugian material yang banyak; tetapi, dia akan mem­peroleh sesuatu yang jauh lebih tinggi dari itu: keridhaan Allah. Di samping itu, orang ber­iman tahu bahwa yang memberi dan menahan sesuatu adalah Allah. Yang memberi makan­an, kekayaan, dan meningkatkan peng­­hasil­annya adalah Allah; karena itu, tak ada guna­nya bersikap rakus atau cemas tentang akibat­nya. Allah menyatakan bahwa sebagai imbal­an bagi moral mereka yang baik dan usaha yang sungguh-sungguh, orang ber­iman akan memperoleh tambahan pahala:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambah­annya.” (Q.s. Yunus: 26).

Lebih mengutamakan kepentingan Islam daripada kepentingan pribadi tidak terbatas pada masalah materi. Mungkin ada kepen­ting­an untuk mengorbankan tubuh juga. Sebagai contoh, bantuan mungkin diperlukan ketika orang merasa letih, lapar atau kurang sehat. Pada waktu-waktu seperti itu, orang ber­iman terus memberikan bantuan tanpa menunda-nunda. Itu karena mereka meng­ang­gap pengorbanan materi atau fisik bukan merupakan suatu kesulitan melainkan kesem­patan yang diciptakan oleh Allah. Ini adalah kesempatan-kesempatan yang dekat yang ditunggu oleh orang-orang ber­iman, yang sangat merindukan kedekatan dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Karena alasan ini, tanpa merasa sedih, mereka berpaling kepada tugas yang paling meng­untungkan. Tak diragukan lagi, gairah dan tekad yang mereka tunjukkan merupakan indikasi dari iman dan keikhlasan.

¨ Komitmen untuk Menjaga Moral yang Baik

Orang yang ingin memperoleh ridha Allah dalam kehidupan di dunia ini akan memper­lihatkan tekad besar untuk menjaga moral yang baik yang disukai Allah. Mereka yang tidak memiliki keimanan yang ikhlas kepada Allah dan yang tidak bersemangat untuk mem­peroleh ridha-Nya, akan merasa bahwa tugas itu berat. Itu disebabkan karena moral yang baik meliputi pelaksanaan secara sem­purna atas kehendak dan hati nurani. Mereka yang tidak punya gairah dan semangat ke­iman­an di hatinya tidak akan menam­pakkan kepekaan hati nurani dan kehendak. Kon­seku­ensinya, mereka tidak memper­li­hatkan moral yang baik dalam pengertian yang sebe­narnya.

Orang-orang beriman yang memeluk agama dengan gigih, sebaliknya, akan dengan senang hati menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip moral yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan mendapatkan kesenangan dari pengamalan itu. Kadang-kadang mung­­­kin mereka menghadapi situasi-situasi yang meng­goda, tetapi ketika mereka menolak untuk mengikuti naluri hewani, mere­ka me­rasa puas mencapai prestasi moral ini. Mereka sering menjumpai kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah namun tetap tegar dan berani.

Menghadapi sikap agresif yang dapat me­mancing kemarahan, mereka sabar dan mena­han diri. Mereka membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Ketika diper­lakukan tidak adil, mereka lebih suka ber­murah hati dan memaafkan, sekalipun mere­ka berada dalam posisi benar. Dalam situasi-situasi yang paling sulit dan menyusahkan pun, mereka tetap mengesampingkan kepen­ting­annya sendiri dengan memberikan prio­ritas kepada keinginan orang lain, dan senang berkorban untuk orang-orang beriman lain­nya. Ketika menyadari bahwa mereka berbuat kesalahan, mereka berusaha sungguh-sung­guh untuk memperbaiki. Meskipun mere­ka mungkin dalam keadaan sangat mem­butuh­kan, mereka tetap bersedekah kepada anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan senantiasa taat kepada perintah Allah. Mereka selalu berbuat adil dan menunjukkan sikap jujur ketika memberikan kesak­sian, bahkan ketika berten­tangan dengan kepentingannya sendiri. Mereka tidak memata-matai orang lain atau berkhianat satu sama lain. Yang terpenting, mereka berpegang teguh pada nilai-nilai al-Qur’an sampai akhir hayat menjemput.

Hanya gairah keimanan memberikan kepada seseorang kemampuan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an. Komit­men orang beriman pada nilai-nilai yang baik mencerminkan kedalaman iman mereka. Tentu saja ada saatnya ketika orang Islam ber­juang melawan hawa nafsu dan ketika mereka tergoda oleh setan. Namun, hamba Allah yang bijaksana selalu menampakkan tekad untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral yang akan menyenangkan Allah disebabkan oleh keta­atan kepada-Nya, dan cita-cita mereka untuk dekat dengan-Nya.

¨ Menyerahkan Diri dan Harta Mereka untuk Allah

Diri dan harta adalah dua konsep yang dianggap sangat penting oleh masyarakat jahiliah. Faktanya, bagi banyak orang diri dan harta merupakan satu-satunya tujuan kehi­dup­an. Sepanjang hidup mereka, orang ber­usaha untuk memperoleh status yang dengan­nya mereka dapat dihormati dan bisa unggul. Dalam al-Qur’an, Allah menyuruh manusia untuk memperhatikan fakta bahwa memiliki harta dan dihormati di masyarakat adalah nafsu banyak orang-orang bodoh:

“Dijadikan indah pada pandangan manu­sia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.s. Ali Imran: 14).

Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa harta dan status tidak lain adalah ujian:

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap diri dan hartamu.” (Q.s. 187).

Dengan nafsu yang menyala di hati, orang-orang dalam masyarakat jahiliah bercita-cita untuk memiliki harta yang banyak. Ketakut­an terbesar mereka ialah kerusakan terhadap harta mereka atau sesuatu yang mereka bang­gakan, karena kerusakan itu akan mempe­nga­ruhi tujuan utama mereka dalam kehidupan. Karena alasan ini mereka mengorbankan segala sesuatu demi melin­dungi kekayaan, diri, dan kemajuan kepentingan duniawi mereka. Pandangan mereka bahwa kehidupan dunia ini, apa-apa yang ada di dalamnya dan kese­nangan-kesenangannya yang menggoda, adalah lebih bernilai daripada ridha Allah, menjadi sumber sikap seperti itu.

Sebaliknya, orang-orang beriman segera mengesampingkan keuntungan material (yang diburu oleh orang-orang jahiliah) demi memperoleh ridha Allah dan surga. Mereka sadar bahwa mereka sedang diuji melalui harta dan diri mereka, dan bahwa Allah ada­lah pemilik sesungguhnya atas apa-apa yang diberikan di dunia ini. Akibatnya, Allah mung­­kin mengambil kembali apa yang telah Dia amanatkan kapan pun Dia menghendaki, karena Allah memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu di alam semesta ini.

“Diri” seseorang, yang adalah tubuhnya, akhirnya akan mengalami proses kemun­duran yang cepat setelah usia enam puluh atau tujuh puluh tahun, dan hartanya tidak akan memberi manfaat baginya di akhirat. Tetapi ketika seseorang menggunakan hartanya di jalan Allah, dia akan menuai kepuasan baik di dunia ini maupun di akhirat. Orang-orang beriman menyerahkan diri mere­ka kepada Allah, dan gairah dalam hati merekalah yang menyebabkan mereka ber­serah diri kepada-Nya. Dalam al-Qur’an dinyatakan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang mukmin dengan surga.” (Q.s. at-Taubah: 111).

Ayat di atas ditutup dengan:

“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan ini, dan itulah ke­menangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 111).

Ayat ini memungkinkan orang-orang beriman untuk senantiasa mengalami kebaha­giaan dan gairah di hati mereka. Ketika diper­lukan, mereka dengan bersemangat meng­gunakan hartanya untuk tujuan yang baik guna mendapatkan ridha Allah. Mereka meng­gunakan diri mereka untuk berbakti kepada agama dan berbuat amal baik untuk mendapatkan ridha Allah. Tak diragukan lagi, mereka sadar bahwa kadang-kadang harta dan hidup mereka mungkin dalam bahaya, tetapi mereka menerima itu dengan senang hati karena mereka menganggap itu sebagai ke­un­tungan dan bukan kerugian. Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan orang-orang ber­iman untuk menghadapi kesulitan dengan tawakal:

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus ber­ta­wakal’.” (Q.s. at-Taubah: 51).

Al-Qur’an juga menceritakan suatu keja­dian yang memperlihatkan betapa bergai­rahnya orang beriman menyerahkan harta dan diri mereka untuk Allah. Sekelompok orang beriman di zaman Nabi Muhammad saw. dengan ikhlas berkeinginan untuk ber­juang di jalan Allah, tetapi keadaan tidak memungkinkan mereka. Allah menghargai niat tulus mereka dan memaafkan mereka:

“Dan tiada dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu’, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak mem­peroleh apa yang akan mereka nafkah­kan.” (Q.s. at-Taubah: 92).

Ini merupakan isyarat yang jelas tentang betapa tulusnya orang-orang beriman berke­inginan untuk menggunakan harta dan diri mereka di jalan Allah dan gairah yang dia rasa­kan untuk tujuan ini. Tak diragukan lagi, jenis pengabdian yang diberikan seorang yang beriman akan berubah sesuai dengan waktu dan situasi. Di zaman Nabi Muhammad saw. perang harus dilancarkan untuk melindungi hak-hak orang beriman. Di zaman kita seka­rang ini umat Islam perlu berjuang dalam bidang intelektual, dan mengabdi dalam bi­dang keilmuan.

Setiap orang yang melakukan pengorbanan tulus untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai al-Qur’an dan menyampaikan keindahan hidup seperti itu kepada orang lain, semata meng­­harapkan balasan dari Tuhannya. Balas­an bagi mereka yang menggunakan waktu dan harta di dunia ini di jalan Allah ditegaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

Siapakah yang mau meminjamkan ke­pada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Q.s. al-Hadid: 11).

¨ Berlomba-lomba dalam Kebaikan

“Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan berse­gera kepada amal-amal kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.s. Ali Imran: 114).

“Maka berlomba-lombalah berbuat keba­jikan.” (Q.s. al-Ma’idah: 48).

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Namun berlomba-lomba ini bukanlah seperti dalam masya­rakat jahi­liah untuk tujuan mengalahkan orang lain. Seba­liknya, ini adalah berlomba untuk mem­perbanyak kebajikan dan amal. Tujuan orang-orang beriman berlomba-lomba bukanlah untuk memperoleh keuntungan dunia atau untuk mengungguli orang lain. Sebaliknya, mereka berlomba-lomba untuk taat kepada perintah Allah, untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang disenangi Allah, dan untuk mencapai ridha Allah. Keterlibatan mereka dalam lomba seperti itu adalah manifes­tasi dari ketakutan dan iman mereka kepada Allah. Memang, usaha yang dilakukan sese­orang merupakan ukuran tentang keikh­lasan dan komitmennya. Dia ingin Allah ridha, memberi rahmat, dan surga, maka dia mela­ku­kan segala upaya dengan sungguh-sung­guh. Dengan menggunakan akal budi, hati nurani, dan kemampuan fisiknya secara mak­simal, dia berusaha untuk hidup sesuai dengan al-Qur’an dalam cara sesempurna mung­kin. Allah mem­beri tahu kita, bahwa usaha tulus mereka­lah yang membuat orang-orang beriman unggul dalam pandangan Allah.

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Q.s. al-Mu’minun: 61).

Sikap Nabi Zakaria dijadikan sebagai contoh:

Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengan­dung. Sesung­guhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.s. al-Anbiya’: 90).

Di sini, Allah meminta perhatian kita kepada fakta bahwa bersegera kepada amal ke­baik­an juga merupakan sifat para nabi. Sepan­jang hidupnya para nabi berusaha untuk memperoleh ridha Allah, maka orang beriman menjadikan para nabi sebagai teladan.

Alasan lain orang-orang beriman ber­lomba-lomba untuk berbuat kebaikan ialah mereka sadar bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat dan kematian sangat dekat. Mereka tahu kematian dapat menimpanya kapan pun, dan bahwa mereka akan merasa menyesal jika tidak berusaha sungguh-sung­guh untuk memperoleh ridha Allah. Karena begitu seseorang masuk alam akhirat, musta­hil untuk kembali ke alam dunia lagi untuk berlomba dalam beramal kebajikan. Dengan demikian, orang beriman berlomba-lomba dengan waktu untuk berbuat baik lebih banyak lagi, dan selama mereka masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Mereka dengan bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Sebu­ah doa orang-orang beriman yang mukhlis dikutip dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Q.s. al-Furqan: 74).

Dengan gairah dan tekad orang-orang beriman memenuhi perintah Allah:

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.s. asy-Syarh: 7-8).

Mereka tidak menyia-nyiakan waktu dan bersegera berbuat kebaikan dengan gairah besar, karena tahu bahwa manusia tidak pernah dapat menganggap usahanya sudah cukup. Mereka tidak pernah lupa bahwa mereka harus memberikan pertanggung­jawaban atas setiap detik waktu yang diguna­kan di dunia ini, dan bahwa mereka akan ber­tanggung jawab atas setiap detik yang tidak mereka gunakan untuk menuruti hati nurani atau terlibat dalam kegiatan yang tidak berguna di saat mereka dapat berbuat lebih baik lagi. Di luar waktu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok pribadi­nya, mereka terlibat dalam usaha terus-menerus untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.

Sadar bahwa pengorbanan fisik dan mental di jalan Allah mendatangkan balasan yang besar, mereka tidak pernah menganggap kele­tihan sebagai hal yang mengganggu, sebagai­mana anggapan masyarakat jahiliah. Mereka memandang ini sebagai kesempatan penting untuk keuntungan di akhirat, dan segera sete­lah pekerjaan selesai, mere­ka dengan berse­mangat melakukan pekerjaan lain untuk menyenangkan Allah. Dinyatakan dalam al-Qur’an:

“Dan barangsiapa menghendaki kehidup­an akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Q.s. al-Isra’: 19).

Sebagai imbalan bagi usaha mereka yang sungguh-sungguh dan komitmen mereka untuk berbuat baik, hamba-hamba-Nya yang beriman akan ditempatkan oleh Allah di rumah-rumah besar dan megah dan menik­mati karunia yang besar untuk selamanya:

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman. Mereka itulah orang yang didekat­kan kepada Allah. Berada dalam surga-surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya ber­hadap-hadapan.” (Q.s. al-Waqi‘ah: 10-6).

Allah telah menyampaikan kabar gembira bahwa mereka yang berletih-letih dalam kehi­dupan dunia ini demi meraih ridha Allah tidak akan merasa letih di akhirat:

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluar­kan darinya.” (Q.s. al-Hijr: 48).

“Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (Q.s. Fathir: 35).

¨ Tetap Sabar Menghadapi Kesulitan

Dalam al-Qur’an, Allah menggambarkan Dirinya sendiri sebagai berikut:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (Q.s. al-Mulk: 2).

Dia menyuruh manusia memperhatikan fakta bahwa kehidupan dunia ini adalah saat ujian. Memang, peristiwa-peristiwa yang keli­hatannya baik atau tidak baik dalam kehi­dupan ini penting dalam menyingkap watak aslinya seseorang. Bencana, secara khusus, akan menyingkap derajat keikhlasan sese­orang.

Salah satu kualitas paling mencolok dari orang-orang beriman ialah karakter mereka yang stabil. Baik di saat sejahtera atau susah, mere­ka memperlihatkan semangat dan keikhlasan yang sama. Ini timbul dari persepsi yang unik tentang konsep “kesulitan”, karena mereka menganggap saat-saat sulit sebagai kesempatan untuk membuktikan ketaatan kepada Allah dan kekuatan imannya. Mereka mengakui bahwa saat-saat sulit adalah situasi khusus yang diciptakan oleh Allah untuk membedakan antara “mere­ka yang dalam hatinya ada penyakit” dan “mereka yang tulus ikhlas dalam beriman kepada-Nya.” Dalam menghadapi apa pun, mereka menampakkan ketegaran dan berta­wakal kepada Allah sesuai perintah-Nya:

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik” (Q.s. al-Ma‘arij: 5).

Al-Qur’an juga menyatakan:

“Allah tidak membebani seseorang melain­kan sesuai dengan kesanggupannya. Ia men­dapat pahala dari kebajikan yang diusaha­kannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” (Q.s. al-Baqarah: 286).

Orang beriman merasa aman dan nyaman karena tahu bahwa Allah tidak membebani mereka melebihi apa yang dapat mereka tang­gung. Dalam menghadapi kesusahan, mereka ingat bahwa ini adalah kejadian yang akan dapat mereka atasi, dan karena itu mereka menghadapinya dengan sabar. Maka, tak peduli betapapun berat penderitaan, mere­ka berusaha untuk menunjukkan sikap ber­serah diri kepada Allah.

Di samping itu, mereka tahu bahwa pen­deritaan-penderitaan telah menimpa orang-orang beriman di masa lalu, dan bahwa cobaan yang dihadapi orang di masa lalu akan mereka hadapi juga. Seseorang beriman sadar akan fakta ini, siap sejak lama sebelum dia benar-benar menghadapi kesulitan; dia telah ber­tekad bahwa dia akan tetap setia kepada Tuhan­­nya, dan dengan demikian, bertekad untuk menunjukkan kesabaran dan tawakal kepada Allah dalam keadaan apa pun.

Dan sesunguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah dahulu bahwa mereka tidak akan berbalik ke belakang. Dan adalah perjanjian dengan Allah akan dimin­ta pertanggungjawabannya.” (Q.s. al-Ahzab: 15).

Seorang beriman memenuhi janjinya kepada Allah. Dia menghadapi kelaparan, kemiskinan, ketakutan, cedera atau kematian dengan teguh, menerimanya dan memper­li­hatkan sikap bersyukur kepada Tuhannya. Bahkan jika berbagai kesulitan menimpanya terus menerus dan seluruh hidupnya dijalani dalam kesulitan, dia tahu bahwa ketika mene­rima kesulitan dalam kehi­dup­an ini (yang hanya berlangsung puluhan tahun) dengan kesabaran, maka kelak dia tidak akan meng­alami kesulit­an dalam kehidupan abadi — tidak sede­tik ­pun. Perilakunya yang teguh, dengan izin Allah, akan memberikan kepada­nya karunia yang indah: kesenangan dan rah­mat Allah dan surga-Nya. Kabar gembira ini disampaikan dalam al-Qur’an:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kela­paran, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 155).

Ada hal terakhir yang harus diingat. Cara orang-orang beriman menghadapi kesulitan dengan kesabaran berbeda dari pemahaman orang jahiliah tentang kesabaran, yang sekadar pasrah. Namun, pemahaman orang beriman, bukan hanya “pasrah” tetapi meng­hadapi masalah dan berusaha menyelesaikan dan mengatasinya. Karena itu, orang beriman berusaha secara maksimal mencari solusi dengan menggunakan akal budinya dan semua sarana material dan fisiknya. Sambil melakukan itu semua, mereka berdoa kepada Allah agar memberi mereka kekuatan:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rah­mati­lah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Q.s. al-Baqarah: 286).

Sungguh, sikap dalam menghadapi kesu­litan inilah — usaha sungguh-sungguh dan sikap menerima — yang menunjukkan gairah sejati. Kekuatan iman mereka kepada Allah dan akhirat memungkinkan orang beriman untuk berjuang keras menghadapi kesulitan-kesulitan tanpa pernah merasa lemah-hati.

¨ Menjadi Lebih Bergairah ketika Meng­hadapi Kesukaran

Telah dinyatakan bahwa diantara tanda-tanda terpenting keimanan dan gairah ialah sikap yang dimiliki orang beriman ketika menghadapi kesukaran. Tanda lain yang menunjukkan iman orang-orang beriman di saat-saat sulit ialah, bahwa mereka tidak per­nah menjadi lemah semangat. Sebaliknya, ketika mereka menghadapi kesukaran, gairah mereka tumbuh bahkan lebih besar lagi, karena orang tidak dapat mencapai surga kecuali jika mereka telah diuji dengan kesu­litan-kesulitan sebagaimana orang-orang dari generasi masa lalu.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada­mu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Q.s. al-Baqarah: 214).

Karena itu, orang beriman pasti akan men­jumpai masalah-masalah dan kesulitan dan hal itu merupakan ketentuan agama. Dengan kata lain, ujian-ujian ini menentukan sifat-sifat penting orang-orang beriman dan mem­beri­kan petunjuk bahwa mereka berada di jalan yang lurus.

Berperilaku sesuai dengan ayat al-Qur’an saat menghadapi kesulitan, menjadikan sese­orang diridhai oleh Allah. Karena itu, meru­pakan keinginan orang beriman untuk meng­hadapi kesulitan sebagaimana para nabi, saha­bat-sahabat mereka dan semua orang beriman yang pernah hidup sepanjang seja­rah. Dengan gairah dan kegembiraan mereka menunggu waktu ketika janji Allah dipenuhi. Diuji dengan kesulitan-kesulitan yang sama berarti bahwa mereka mengikuti jejak para nabi. Tentu saja, mereka tidak mencari kesu­litan, tetapi kesukaran yang mereka hadapi akan menambah gairah dan kekuatan mereka. Mereka berharap akan memperoleh balasan yang lebih baik sebagai imbalan bagi kesu­karan, karena mereka akan menjadi orang-orang yang tetap setia kepada Allah tanpa patah semangat dan akan berkata:

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” (Q.s. al-Ahzab: 22).

¨ Mencari Ridha Ilahi dengan Senang Hati

Sifat lain orang beriman ialah kegembiraan dan kebahagiaan yang mereka rasakan ketika terlibat dalam suatu perbuatan yang akan mendatangkan ridha Allah. Ini adalah “ke­gem­biraan iman”. Kegembiraan iman adalah kegembiraan batin yang tulus yang tidak dapat dirasakan oleh mereka yang tidak hidup dengan berpegang pada agama, karena ini adalah kegembiraan yang berkaitan dengan iman, yang merindukan keridhaan Allah, rahmat-Nya dan surga-Nya

Mereka yang imannya kepada Allah tidak sepenuhnya hampir pasti tidak meng­alami kegembiraan seperti itu. Sama dengan orang-orang jahiliah, yang hanya menemukan ke­gem­biraan dalam apa yang berhubungan dekat dengan kepentingan pribadinya, ketika mereka merasakan sesuatu “yang mengun­tung­kan”. Namun, ini hanyalah kegembiraan sementara. Begitu keuntungan dunia hilang, kegembiraan juga hilang.

Mereka yang tidak memiliki iman sejati di hati akan merasa frustrasi jika untuk memper­oleh ridha Allah harus melak­sanakan tugas yang mereka merasa sulit me­lak­sanakannya. Mereka menunjukkan keeng­ganan dan ke­tidak­acuhan dengan melakukan tugas itu dengan setengah hati. Mereka sering meng­anggap bahwa kerja suka­rela atau peng­abdian sebagai kegiatan yang membu­ang-buang waktu, tanpa menghargai bahwa memperoleh ridha Allah adalah balas­an terbaik dan paling berharga. Maka mereka merasa seolah-olah telah memi­kul tanggung jawab besar, atau melaku­kan pengorbanan besar. Pada titik ini muncul­lah sifat khusus berupa semangat orang beriman. Apakah sukar atau sederhana, tugas apa pun tidak pernah mem­buat frustrasi orang ber­iman, karena dia dengan sepenuh hati dan senang hati ber­ibadah kepada Allah. Sema­ngat ini termani­festasi dalam sikap kegem­biraan dan kebaha­giaan.

Bahwa orang beriman mengharapkan balas­an hanya dari Allah juga dinyatakan oleh Rasulullah saw. Ditanya balasan apa bagi orang yang mendambakan popularitas dan kompensasi atas perjuangannya di jalan Allah, Nabi saw. bersabda, “Tidak ada balasan bagi dia.” Kemudian beliau bersabda, “Allah menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas dan untuk mencari ridha-Nya.” (H.r. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

¨ Tidak Terpengaruh oleh Mereka yang di Hatinya Terdapat Penyakit

Di bagian awal buku ini telah dinyatakan bahwa keimanan dan kedekatan seseorang kepada Allah tidaklah sama, dan bahwa ada sebagian orang yang berserah diri kepada Allah dan mereka yang di hatinya terdapat penyakit.1 Orang-orang yang tidak memiliki keimanan kuat (meskipun mereka hidup di antara orang-orang beriman dan menegas­kan bahwa mereka beriman) memperlihatkan reali­tas iman dalam cara mereka berperilaku. Mereka tidak memiliki gairah untuk hidup menurut agama dan memperoleh ridha Allah, dan bahkan ingin memperlemah semangat dari hati orang beriman.

Namun, mereka yang punya iman yang kuat tidak terpengaruh oleh kata-kata dan tindakan mereka seperti itu, karena orang-orang beriman memahami apa yang difirman­kan Allah dalam al-Qur’an:

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini kebenaran ayat-ayat Allah itu menggelisah­kan kamu.” (Q.s. ar-Rum: 6).

Kelalaian sebagian orang sebenarnya meru­pakan akibat dari ketidakyakinan mereka. Sadar akan fakta ini, orang beriman tidak merasa frustrasi; sebaliknya, mereka makin bertekad untuk berjuang demi kepen­tingan Islam, karena orang lain tidak punya tang­gung jawab atas agama dan tidak ber­usaha untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Makin kuat tekad mereka untuk meng­ingatkan nilai-nilai al-Qur’an dan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prin­sip Islam dalam cara yang terbaik.

Seorang ulama besar, Said Nursi, yang juga dikenal sebagai Bediuzzaman, mengung­kap­kan bagaimana orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh untuk mendapat ridha Allah mendekati orang-orang yang tak punya semangat, “Kelemahan hati dan kemunduran orang lain menjadi sebab meningkatnya gai­rah dan usaha orang-orang beriman, karena mereka merasa bertanggung jawab atas tugas mereka yang telah meninggalkannya.”2

Bediuzzaman mengamati bahwa setiap kali orang-orang beriman melihat mereka yang di dalam hatinya terdapat penya­kit untuk meng­hindari pengabdian kepada Islam, maka mereka akan memeluk agama dengan komit­men yang makin kuat. Kelalaian orang-orang yang tidak bersemangat untuk berpegang kepada nilai-nilai Qur’ani dan untuk me­nyam­­pai­kannya, mengingatkan orang-orang beriman tentang tanggung jawab mereka sendiri yang besar. Keengganan orang-orang lain untuk mengamalkan nilai-nilai yang baik menjadi sebab bagi orang-orang beriman untuk ber­perilaku lebih baik lagi. Berbeda dari orang-orang yang tidak punya keyakinan tentang Allah dan para rasul-Nya, orang beriman mem­­perlihatkan ketaatannya yang luar biasa dengan mengatakan, “kami men­dengar dan kami menaati”.

Mereka yang tidak memiliki keimanan yang sungguh-sungguh di hati mereka secara tidak sadar telah menyumbang pada perkem­bangan orang-orang beriman dalam banyak cara. Namun mereka tidak dapat menularkan kelalaian mereka ke dalam hati orang-orang beriman, karena orang-orang beriman mem­per­oleh gairah dan keimanan dari hubungan mereka dengan Allah dan bukan dari sikap orang-orang di sekitar mereka. Apakah orang-orang beriman menyaksikan kelalaian orang-orang seperti itu atau tidak, mereka tetap berusaha sungguh-sungguh untuk memenuhi perintah Allah. Namun, setelah melihat kelemahan hati orang lain mereka bertambah kuat komitmennya untuk berpegang kepada agama Allah. Sementara orang yang lalai tidak terlalu memikirkan kehidupan yang kekal, dia secara tidak sadar telah menambah gairah orang-orang beriman dan mendorong mereka ke arah yang lebih baik.

SEPERTI APAKAH GAIRAH DAN SEMANGAT ORANG-ORANG BERIMAN

Dalam masyarakat-masyarakat yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an, kata “kegairahan” sering mengungkapkan perasaan gelisah, cemas, stress dan marah saat menghadapi peristiwa-peristiwa tertentu. Ia bukanlah pera­saan positif melainkan sesuatu yang menye­dihkan. Kegairahan orang-orang beriman, sebaliknya, adalah perasaan yang meluap-luap yang dialami karena memikirkan keindahan Allah, karunia-karunia-Nya, dan kehidupan abadi di surga.

Orang-orang yang tidak memiliki iman mengalami perasaan sedih karena mereka tidak bertawa­kal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah berarti menjadikan Allah sebagai pelindung dan tempat bersandar. Karena orang-orang yang lalai tidak menghar­gai kebesaran Allah, mereka tidak dapat meng­alami perasaan tawa­kal dan berserah diri. Tidak juga menjadikan Allah sebagai pe­lindungnya, mereka berharap akan menerima bantuan dari sum­ber-sumber keduniawian. Karena alasan ini mereka tidak dapat membe­baskan diri dari ketakutan dan kecemasan.

Namun, orang-orang beriman tidak dilan­da perasaan sedih sebagaimana dialami oleh masyarakat jahiliah berkat tawakal mereka kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kegairahan iman yang dilu­kiskan oleh al-Qur’an, sebagai sifat orang-orang beriman. Itu disebabkan karena mereka sadar bahwa setiap kejadian diciptakan untuk tujuan Ilahi dan, dengan demikian, mere­nung­­kan dalam-dalam untuk memahami tujuan-tujuan Ilahi. Dengan menggunakan kesadar­an, mereka dapat dengan mudah melihat tujuan-tujuan yang tersembunyi dalam detail-detail yang sangat lembut. Ketika diban­ding­kan dengan orang-orang yang lalai, mereka memperlihatkan kepekaan yang lebih besar terhadap kejadian yang sama, mendapat kesenangan dan kegairahan yang lebih besar darinya. Mereka mengalami kegai­rahan kare­na mengetahui bahwa mereka dicip­takan bu­kan dari apa-apa dan masuk ke sebuah dunia yang penuh warna di mana ratusan ribu, bah­kan jutaan keajaiban muncul ber­sama dalam waktu yang sama. Ke mana pun mereka me­man­dang, mereka melihat keindahan Allah: alam semesta, angkasa, mata hari, bulan, kupu-kupu, jutaan binatang, tanaman, buah-buah­an, dan sebagainya. Seorang mukmin merasa sangat berbunga-bunga ketika dia memba­yangkan semua ini.

APA YANG MEMBANGKITKAN GAIRAH ORANG - ORANG BERIMAN

¨ Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhan­mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesung­guhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memper­hatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi. Mereka merasa heran tatkala memper­hatikan orang-orang yang tetap tidak memi­liki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mende­ngar­kan suara hati nuraninya sebentar saja dan ber­pi­kir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah. Sebagaimana dinyata­kan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesem­purnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesan­kan sehingga siapa pun yang mau mengguna­kan hati nuraninya dapat me­nyak­sikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman me­mi­kirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

Orang-orang beriman yang mere­nung­kan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menya­dari, bahwa penciptaan langit dan bumi meru­pa­kan tanda adanya kebijaksanaan dan keku­asaan yang abadi. Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan dan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesem­purnaan. Tidak seba­gaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, sese­orang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan baha­gia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang ter­dapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijak­sa­naan, dan keagungan Allah, dimana meru­pakan satu-satunya kawan dan pelin­dung bagi seseorang. Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan ber­lindung kepada-Nya dari azab-Nya, seba­gai­mana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

¨ Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan me­nya­dari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu kein­dah­an tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.

Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mere­ka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggu­na­kan akalnya secara semes­tinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas keja­dian-kejadian yang ada hanya akan me­mahami penam­pakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terba­tas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang ber­kaitan dengan ke­iman­an dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai. Dengan demi­kian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.

Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersi­kap sombong kepada Allah tidak dapat me­nge­nali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu ber­arti ia mengakui kekurangan dirinya. Kare­na ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk seba­gai­­mana mesti­nya. Bahkan andaikata ia mem­per­hatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelas­kannya begitu saja dan menekan rasa keka­gum­annya.

Lepas dari sikap angkuh dan kepura-pura­an, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat di­tangkap oleh mata, maka bang­kitlah kebaha­gia­­an memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”. Kein­dahan dan pesona yang terpancar dari makh­luk-makhluk meng­arahkan mereka untuk merenungkan keku­asa­an yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam pere­nungan ini mereka sema­kin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semua­nya itu adalah karunia dari Allah. Mereka mera­sa­kan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekali­pun semua ke­indahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebaha­giaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya. Mereka merasa bersyu­kur bahwa Dia telah meng­anugerahkan kepada mereka kesem­patan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencu­rah­kan karunia-Nya kepa­da mereka, dan mereka merasakan kebaha­giaan yang amat sangat karena dapat bersyu­kur kepada Allah.

Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat ke­indah­an-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diisti­me­wa­kan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhani­nya. Namun mereka dapat melihat dan me­nik­mati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebi­jakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka me­ningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:


“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu meng­hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah mem­be­ri­kan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, pada­hal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.

Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa ke­baik­an membuat semangat mereka segar kem­bali. Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang ber­jalan ke arah kehidupan yang menyenang­kan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya. Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).

“Dia mengeluarkan mereka dari kege­lap­an (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

Seorang yang beriman tahu bahwa ia ber­hutang budi atas rahmat-rahmat yang dinik­matinya itu kepada Allah. Allah telah memi­lihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari keja­hat­an, dan menciptakannya dengan kemam­puan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya. Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi menda­pat­kan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Seba­gaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindah­an-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya. Sema­ngat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Mu­ham­mad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).

Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanya­lah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Buku ini terlalu terbatas untuk me­nye­butkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhati­kan oleh orang-orang beriman. Cakrawa­la pandangan mereka luas, dan ke­mam­puan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.

¨ Cinta dan Persahabatan

Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mus­tahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka beri­­kan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-ke­un­tungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.

Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, seba­gai­mana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat sese­orang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karak­teristik-karakteristik apa saja yang mesti dimi­likinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.

Selama pemahaman mengenai hal ini se­nan­tiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meli­puti diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memper­lihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda ada­nya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk ber­usaha meraih kedudukan yang tinggi di akhi­rat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para ke­kasih-Nya.

Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau ber­akhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna. Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pema­ham­an masyarakat jahiliah. Cinta dan per­sa­habatan pada masyarakat jahiliah tidak dilan­dasi niat untuk senantiasa bersama selama-lama­nya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kese­tiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati. Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melan­dasi persaha­bat­an mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menya­dari adanya kemungkinan ini pun lalu ber­sikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman. Kehatian-hatian me­rusak ketulusan, dimana hal ini merupa­kan pra­syarat dalam menjalin cinta dan per­sahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa mem­perhi­tung­kan adanya kemungkinan berakhirnya persaha­bat­an mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menun­juk­kan sifat ketulusan dimana nan­tinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah ber­akhir.

Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menun­jukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya. Karak­teristik isti­mewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesedia­an untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebaha­giaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegem­biraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti. Ini juga merupa­kan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan ber­sikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lama­nya.

¨ Melindungi Kebenaran

“Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluar­kan­lah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelin­dung dari sisi Engkau, dan berilah kami peno­long dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).

Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk me­lindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan men­jamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.

Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menye­la­matkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan ini­lah gairah dan semangat mereka mem­beri­kan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.

Allah juga meminta tanggung jawab kepa­da orang-orang beriman untuk meme­rangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Meme­rangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamai­an serta kesejahteraan adalah terma­suk dian­tara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pen­tingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemung­­karan ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A‘raf: 165).

Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang di­sebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan me­me­rangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misal­nya, telah berjuang keras untuk menye­la­matkan Bani Israel dari tirani Fir‘aun. Dalam al-Qur’an, Fir‘aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memper­budak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menis­takan anak-anak pe­rem­puan mereka. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

“Maka datanglah kamu berdua kepada­nya (Fir‘aun) dan katakanlah: ‘Sesung­guh­nya kami berdua adalah utusan Tuhan­mu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

Maka beliau pun mendatangi Fir‘aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.

Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir‘aun pun tamat riwa­­yat­nya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diper­lihatkannya, Allah pun memberikan keme­nangan kepada beliau dan para peng­ikutnya atas diri Fir‘aun.

Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang ber­iman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melaku­kan keangkaramurkaan, tidak adil, dan me­men­tingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas. Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan keba­hagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadil­an yang disukai oleh Allah, mendengar­kan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan men­jaga keselamatan orang-orang yang tidak ber­dosa. Maka mereka pun memperoleh kebaha­giaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.

Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk mem­peroleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amal­nya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”1

¨ Ibadah

Bagi orang-orang beriman mencari keri­dha­an dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayat­nya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

“Hai orang-orang beriman, bertak­wa­lah kepada Allah dan carilah jalan yang mende­katkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat men­dekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasa­kan oleh seseorang ketika sedang beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibuk­kan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewa­jiban dalam beribadah. Mereka mema­hami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat peng­har­gaan yang besar di mata Allah, juga dise­butkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muham­mad saw., di mana seorang muk­min yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasa­kan kebahagiaan ketika menger­jakan shalat, menja­lankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan mena­ati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasa­kan oleh orang-orang beriman dalam menjalan­kan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebut­kan dalam halaman-halaman selanjutnya.

¨ Membaca al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gam­baran mengenai orang-orang ber­iman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan ber­tasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.

Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mere­ka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat mema­hami semua itu. Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasa­kan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka pera­saan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyata­kan bahwa orang-orang beriman me­nyung­kur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepada­Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil ber­sujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).

Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberi­tahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibaca­kan kepada orang-orang beriman, me­ningkat­kan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

“Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari ketu­runan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu meng­ingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada se­orang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzi­kir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisau­kanmu. Bacalah al-Qur’an dan senan­tiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

¨ Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku menga­bulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendak­lah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucap­kan atau pikirkan adalah penye­bab mun­culnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena menge­tahui bahwa Allah ada bersama mereka, per­lin­­dung­an-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya ter­hadap mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat menda­lam, benar-benar merasakan perlunya menda­pat bimbingan dari-Nya, dan senan­tiasa me­mo­hon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk me­min­ta apa saja kepada Allah. Setiap orang ber­peluang untuk memohon apa saja yang diper­lukannya, baik hal itu penting atau tidak pen­ting, yang sifat­nya ruhaniah maupun material. Allah men­jawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

¨ Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk meng­harapkan bahwa ada seseorang yang menge­tahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia. Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi. Itulah sebab­nya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melaku­kan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melaku­kan kesalahan, namun sesegera mungkin meng­­ikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelum­nya. Proses ini terus berkesinambungan me­nu­ju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan ber­tobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan keba­hagiaan ruhaniah.

Manakala orang-orang beriman melaku­kan kesalahan, mereka tidak memper­lihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengam­puni mereka. Begitu mereka menya­dari bahwa mereka telah melakukan suatu perbu­at­an dosa, mereka segera meminta perlin­dung­an kepada Allah dan memohon ampun­an-Nya. Allah meng­gam­barkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau meng­aniaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat meng­ampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

Kabar gembira dari Allah bahwa Dia mene­­rima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegem­biraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesem­patan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk mema­suki surga. Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah meng­ampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

Dengan merasakan kasih sayang dan rah­mat Allah kepada mereka dan meng­harapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

¨ Menyampaikan Nilai-nilai

Luhur al-Qur’an

Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

“Dan hendaklah ada di antara kamu sego­longan umat yang menyeru kepada keba­jikan, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk me­nyam­paikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menun­jukkan kerusakan akh­lak yang terdapat di tengah-tengah masya­rakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manu­sia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenya­man­an dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharap­kan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama. Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendo­rong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal sese­orang di dunia ini menentukan kehidup­an abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang ber­iman. Dengan alasan inilah mereka punya komit­men untuk mengorban­kan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampun­an dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau ber­tahun-tahun, siang dan malam, guna mem­ban­tu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun dengan berse­ma­ngat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan mem­berikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.

Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyam­paikan pesan, sedangkan Allahlah yang se­sung­guhnya memberikan hidayah kepada seseorang. Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Mu­ham­­mad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. ker­jakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka. Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah di­gambarkan sebagai berikut:

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menam­bah mereka lari (dari kebenaran). Dan se­sung­guh­nya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (meng­ing­kari) dan sangat me­nyom­bong­kan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemu­dian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Peng­ampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mende­ngarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam men­ja­lankan perintah Allah untuk menyam­pai­kan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak men­cela sikap mereka namun beliau terus saja melan­jut­kan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti. Meskipun umatnya menun­jukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunak­kan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masya­rakat jahiliah dengan cara meng­ingat­kan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.

Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjar­an. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurah­kan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang meme­lihara hukum-hukum Allah. Dan gembira­kanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

¨ Berpikir tentang Surga

Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehi­dupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana. Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagai­mana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk mem­berikan ganjaran. Lagi pula, Allah me­mang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berju­ang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya mengingin­kan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.

Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghin­dari­nya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang meng­ikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya me­nin­das mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah. Bagai­mana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinya­ta­kan di dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Se­sung­guhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini,2 orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguh­nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerja­kan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).

Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.

Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebaha­gia­an utama. Mereka akan bertemu dengan mala­i­kat-malaikat Allah yang akan mengantar mere­ka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi. Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam keda­maian dan keaman­an. Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambar­kan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istri­nya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra‘d: 23-4).

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih mem­bahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin3 dan Anshar4 dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menye­diakan bagi mereka surga-surga yang meng­alir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keme­nangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).

Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

“Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi per­juangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.

Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindah­an dan karunia yang selama ini pernah di­inginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya. Cakrawala pan­dang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepe­­nuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang ber­iman. Memikirkan hadiah-hadiah menge­jut­kan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selama­nya membuat mereka merasa sangat berba­hagia.

Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah men­dapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misal­nya, orang-orang beriman menge­ta­hui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan peng­hormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

Setan tak akan dapat mendekati para pen­du­duk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadap­an Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijum­pai akhlak-akhlak buruk yang ada pada ma­sya­rakat jahiliah (seperti kebencian, kemarah­an atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.

Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-ren­cana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka. Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan ke­nikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin. Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa ber­buah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.

Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk diba­yangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribu­an, miliaran, atau triliunan tahun ... namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi. Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang di­lewati­­nya.

Memikirkan tentang kenikmatan-kenik­matan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupa­kan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rang­sang­an untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi sema­kin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih ba­nyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagai­mana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk men­da­patkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).

MANFAAT SEMANGAT DAN KEGEMBIRAAN BAGI ORANG-ORANG BERIMAN

¨ Memperoleh Kekuasaan dan Kekuatan

Sepanjang hayatnya orang-orang berupaya untuk mencari jalan guna memperoleh keku­atan mental dan fisik. Demi tercapai tujuan ini mereka pun menggunakan peng­obatan dan ilmu pengetahuan dengan harapan men­dapatkan hasil dari berbagai obat-obatan atau latihan-latihan mental. Meskipun demi­kian, mereka tidak berhasil menda­patkan formula yang dapat membuat mereka tetap tangkas, bersemangat, dan enerjik hingga akhir hayatnya.

Satu-satunya cara yang dapat membuat seseorang dapat tetap kuat dan cekatan secara mental dan fisik adalah iman. Ketakwaan kepada Allah di dalam hati seseorang mem­buatnya cekatan, waspada, dan kuat setiap saat. Allah mengaruniai orang-orang beriman kekuatan ini karena keimanan mereka kepada-Nya dan mengamalkan al-Qur’an, lagi pula hasrat dan semangat orang-orang ber­iman dalam memperoleh keridhaan Allah memberikan kepada mereka kekuatan yang tak terbatas. Karena senantiasa mengingat fakta bahwa kehidupan di dunia ini adalah singkat saja dan kematian serta pengadilan adalah dekat, senantiasa menjadi sumber motivasi dan aktivitas mereka. Se­mangat mereka yang berkaitan dengan iman ini tidak memungkinkan adanya rasa putus asa dan kekecewaan serta memberikan energi yang segar untuk melakukan amal-amal keba­jikan satu demi satu, siang dan malam.

Selain kekuatan fisik, orang-orang beriman juga memiliki kesadaran dan ke­insyaf­an yang jernih. Mereka dapat merasakan dengan cepat sisi-sisi yang rumit dari peris­tiwa-peristiwa, membuat solusi yang terang yang tidak dapat dilihat oleh orang-orang lain­nya, meng­iden­tifikasi kejadian-kejadian dengan cara yang paling komprehensif, dan menarik kesim­pulan-kesimpulan paling akurat. Bahkan pada saat-saat kecapaian pun, mereka memi­liki kesadaran yang tajam kare­na semangat yang ada pada diri mereka. Mere­ka menjalankan tugas-tugas mereka dengan cara setepat dan sesempurna mungkin dan, dengan kehendak Allah, memperoleh hasil-hasil yang sukses. Singkatnya, mereka mem­perlihatkan keman­tap­an dan kekuatan yang tak terkira dalam mengerjakan apa saja yang mereka lakukan dan tidak pernah loyo. Bila­mana mereka tidak mencapai keberhasilan yang segera, mereka tidak pernah merasa putus asa dan kehilangan komitmen mereka, karena menyadari bahwa hasil akhir dari setiap amal senantiasa layak bagi orang-orang beriman.

¨ Mendapatkan Bantuan dan Dukungan dari Allah

“Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesung­guhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (Q.s. al-Hajj: 40).

Dalam ayat ini Allah menjanjikan perto­longan-Nya kepada mereka yang berpegang teguh kepada agama mereka dengan berse­mangat. Di dalam al-Qur’an, Allah mem­beri­kan contoh mengenai Thalut dan pasukan­nya. Beberapa orang anggota pasukan Thalut yang akan bertempur dengan pasukan Jalut menunjukkan keloyoan dan berlagak seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan untuk bertempur. Meskipun demikian, mereka yang memiliki iman sejati kepada Allah dan meng­abdi kepada-Nya dengan penuh sema­ngat memperlihatkan keberanian dan ber­kata:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Mereka mencari perlindungan kepada Allah, maka Allah pun menolong hamba-ham­ba yang saleh ini dengan bantuan-Nya dan memenangkan mereka atas pasukan Jalut, sekalipun jumlah mereka sedikit. Kejadian ini diceritakan di dalam al-Qur’an sebagai ber­ikut:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum air­nya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang­siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tat­kala Thalut dan orang-orang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Allah berkata: ‘Berapa banyak terjadi golong­an yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mere­ka, mereka pun berdoa: ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’ Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah mening­galnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Q.s. al-Baqarah: 249-51).

Selain itu, Allah menambahkan keimanan yang lebih banyak lagi atas iman para hamba-Nya yang berbakti dan menguatkan mereka dengan mengirimkan ketenangan ke dalam hati-hati mereka manakala mereka berpegang teguh kepada agama. Perasaan tenang ini membuat mereka tidak merasa cemas atas apa pun yang akan menimpa mereka. Bantuan Allah kepada orang-orang beriman untuk membangkitkan semangat mereka, dinyata­kan di dalam al-Qur’an:

“Dialah yang telah menurunkan ketenang­an ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di sam­ping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. al-Fath: 4).

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Q.s. al-Fath: 18).

“Kemudian Allah menurunkan ketenang­an kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pemba­lasan kepada orang-orang kafir.” (Q.s. at-Taubah: 26).

Kita juga diberitahu di dalam al-Qur’an bahwa manakala orang-orang kafir membuat rencana untuk membunuh Nabi saw., Allah menolongnya dengan menurunkan kete­nangan:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Mu­ham­mad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengelua­rkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang1 ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.s. at-Taubah: 40).

Pertolongan Allah, sebagaimana dinyata­kan di dalam al-Qur’an, adalah salah satu gan­jaran yang akan diterima oleh orang-orang beriman di dunia ini karena semangat mereka. Pahala yang mereka dapatkan di akhirat nanti, pada satu sisi, tentu saja lebih besar.

¨ Memperoleh Surga

Allah telah memberi kabar gembira ten­tang surga bagi mereka yang beriman dan beramal saleh:

“Dan sampaikanlah berita gembira ke­pada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di da­lam­nya.” (Q.s. al-Baqarah: 25).

Allah akan mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan ini kepada mereka sebagai balas­an atas semangat dan usaha yang telah mereka perlihatkan dalam kehidupan di dunia ini. Orang-orang beriman mengamalkan ayat ini:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas­nya seluas langit dan bumi.” (Q.s. Ali Imran: 123).

Mereka mencurahkan segala upaya mereka untuk mencapai surga, karena Allah berfir­man:

“Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 158).

Allah membalas amal-amal kebajikan yang dikerjakan secara tulus ikhlas dan sepenuh hati, dengan demikian orang-orang beriman akan mendapat pahala untuk segala amal yang mereka kerjakan dengan ikhlas, seka­lipun hanya sebesar atom. Dengan demi­kian, mereka akan merasa ridha terhadap Tuhan mereka dan Tuhan mereka pun akan merasa ridha kepada mereka:

“Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (Q.s. al-Ma’idah: 119).

Kepada orang-orang yang benar akan dikatakan:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.s. al-Fajr: 27-30).

KELALAIAN MEREKA YANG IMANNYA TIDAK SUNGGUH SUNGGUH

Pada awal tadi telah dinyatakan bahwa iman dari setiap orang yang berkata, “Aku beriman” tidaklah sama. Dalam bagian ini akan dibahas mengenai kelalaian dari orang-orang yang tidak beriman dengan benar. Kurangnya komitmen yang sejati adalah suatu hal yang menyebabkan lemahnya iman. Sebelum melanjutkan topik ini, alasan-alasan me­ngenai adanya perbedaan ini dapat dijelas­kan dengan melihat bagaimana al-Qur’an mengidentifikasi orang-orang semacam ini, pandangan mereka mengenai agama, dan tujuan hidup mereka.

¨ Mereka yang Imannya Tidak Sungguh-sungguh

Di dalam al-Qur’an orang-orang semacam ini juga disebut sebagai “mereka yang di dalam hatinya berpenyakit”, “munafik”, “mere­ka yang berbalik ke belakang” atau “mereka yang tinggal di belakang”. Dapat dicermati bahwa mereka secara utuh bukan­lah termasuk golongan orang-orang beriman maupun orang-orang jahiliah, sebagaimana dinyatakan di dalam ayat-ayat berikut ini:

“Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka.” (Q.s. al-Mujadalah: 14).

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).” (Q.s. an-Nisa’: 143).

Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa orang-orang semacam ini umumnya tinggal di tengah-tengah kaum muslimin. Penampilan, gaya hidup, dan sebagian dari perilaku mereka menyerupai orang-orang beriman. Namun, sesungguhnya, orang-orang ini tidaklah benar-benar seperti mereka karena karakteristik yang paling istimewa dari orang-orang beriman adalah keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah, se­mentara orang-orang ini tidak memiliki ke­imanan yang kuat di dalam hati mereka. Sekali­pun mereka menyatakan keimanan, mereka bukanlah orang-orang beriman yang sesungguhnya. Mengenai hal ini Allah ber­firman sebagai berikut:

“Di antara manusia ada yang mengata­kan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, pada­hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Baqarah: 8-9).

Apa yang mereka nyatakan sangat berbeda dengan apa yang disembunyikan di dalam hati mereka, ini dikarenakan “penyakit” yang ada di dalam hati mereka. Fakta ini juga di­nya­takan di dalam al-Qur’an:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Q.s. al-Baqarah: 10).

Di sini maksudnya bukanlah penyakit secara fisik, namun yang sifatnya secara ruhani. Di dalam hati orang yang ada penya­kitnya seperti ini maka ia tidak dapat mema­hami agama secara benar dan mengamal­kannya di dalam kehidupan. Sekalipun ia menyaksikan tanda-tanda keberadaan Allah secara terang benderang, ia tidak dapat menun­dukkan hatinya kepada-Nya, dan tidak dapat mencermati batasan-batasan-Nya. Ia tidak mampu hidup dengan agama Allah secara lengkap karena meskipun nuraninya telah membimbingnya kepada kebenaran, dirinya terlalu lemah untuk mengamalkan apa yang dinyatakan oleh lidahnya. Dibanding­kan dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga, ia menganggap bahwa keun­tung­an-keuntungan duniawi ini lebih mudah diper­­oleh. Dengan demikian, maka ia pun begitu terikat dengan dunia ini dan tidak dapat menghargai nilai akhirat dengan sela­yaknya.

¨ Keberadaan Mereka di Tengah-tengah Orang-orang Beriman

Tentu saja merupakan suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa mereka yang di dalam hatinya ada penyakit lebih suka tinggal bersama-sama dengan orang-orang beriman, meskipun mereka tidak memiliki cita-cita yang sama. Salah satu alasan kenapa mereka lebih senang demikian adalah karena orang-orang semacam ini ingin mendapatkan untung dari agama dan kedamaian serta ke­amanan lingkungan dari orang-orang ber­iman. Mereka merasa lebih nyaman berada di tengah-tengah orang-orang beriman yang mem­perlihatkan akhlak mulia, dan lebih senang tinggal di tengah-tengah masyarakat seperti ini yang tidak dapat dijumpainya pada masyarakat jahiliah. Sementara keimanan di hati mereka sedikit, mereka tidaklah kafir selu­ruhnya, meskipun demikian mereka tidak dapat berintegrasi seutuhnya ke dalam masya­rakat jahiliah ataupun ke dalam masya­rakat Islam. Keraguan di dalam hati mereka me­nim­bulkan dilema ini. Mereka mendapati bahwa kehidupan di dunia ini lebih menarik namun mereka juga ingin mendapatkan karunia-karunia yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat nanti. Meskipun mereka tidak memi­liki keimanan yang sungguh-sungguh, punya pikir­an-pikiran semacam, “Apakah ini benar?” dan “Bagaimana kalau janji-janji itu benar-benar nyata?” menyebabkan mereka berharap bahwa selain mendapatkan kese­nangan-kesenangan duniawi, mereka juga dapat memetik keuntungan dari rahmat-rahmat dan karunia-karunia yang dicapai oleh orang-orang beriman.

Mereka mengharapkan agar orang-orang beriman dengan tulus akan melaksa­nakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama, sementara mereka sendiri dapat meng­ambil keuntungan duniawi darinya. Namun demi­ki­an, bila ada kesulitan dan masalah mereka tidak mau bergabung bersama-sama dengan orang-orang beriman. Di dalam al-Qur’an perilaku orang-orang semacam itu pada masa Nabi Muhammad saw. digam­barkan sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: ‘Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: ‘Andaikan, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya men­dapat kemenangan yang besar (pula)’.” (Q.s. an-Nisa’: 72-3).

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (keme­nangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (Q.s. an-Nisa’: 141).

Orang-orang ini ingin memetik keun­tungan dari manfaat yang diperoleh oleh orang-orang beriman, maka kadang kala mereka berupaya menarik perhatian dan meyakinkan orang-orang beriman me­nge­nai komitmen mereka atas agama. Kendati demi­kian, karena orang-orang beriman telah me­nyaksikan sendiri keacuhan dan kelo­yoan yang telah tampak secara terang-terangan, maka mereka tidak berhasil untuk mempe­nga­ruhinya.

Orang-orang munafik memiliki pikiran-pikiran rusak, sehingga mereka berupaya untuk melakukan tipu daya sekalipun di­antara mereka sendiri, dan berpikir bahwa mereka dapat ikut menikmati ganjaran-gan­jaran yang diterima oleh orang-orang beriman pada kehidupan yang berikutnya. Di dalam al-Qur’an posisi mereka yang sesung­guhnya digambarkan:

“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang1 dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kamu men­ce­lakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (Q.s. al-Hadid: 12-5).

Orang-orang semacam ini hendaknya menyadari bahwa jika mereka tidak memiliki keimanan yang tulus di dalam hati mereka, kehidupan mereka di tengah-tengah orang-orang beriman tidak ada gunanya di hadapan Allah. Oleh karena Allah telah menganuge­rahkan hati nurani, kebijaksanaan, dan ke­mam­puan untuk menimbang kepada manu­sia, Ia akan menanyai setiap orang secara indi­vi­du dan memberinya ganjaran atau menghu­kumnya sesuai dengan itu. Amal-amal yang dikerjakan oleh seseorang secara ikhlas, untuk memperoleh keridhaan-Nya, akan mendapat­kan pahala dari-Nya. Hanya menyatakan ketaatan saja tidaklah cukup, karena tingkah laku seseorang mesti cocok dengan apa yang dikatakannya. Dengan demi­kian, orang-orang yang lalai menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa hanya dengan tinggal di tengah-tengah orang-orang beriman akan menolong mereka pada Hari Pengadilan nanti. Akibat yang akan di­tanggung di akhirat kelak oleh orang beramal demi kepentingan hawa nafsunya sendiri daripada untuk men­cari keridhaan Allah, dinyatakan dalam sebu­ah Hadis Nabi Mu­hammad saw.: “Barang­siapa yang ingin didengar (amal kebajikannya) — Allah akan membuat (niatnya yang sebenarnya) didengar; dan barang­siapa memperlihatkan (amal kebajikan­nya) — Allah akan memperlihat­kannya.” (H.r. Bukhari Muslim).

¨ Kelalaian Mereka yang di dalam Hatinya Ada Penyakit

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke bela­kang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.s. al-Hajj: 11).

Ayat ini mengungkapkan tipe “semangat” yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berpegang teguh kepada agama. Mereka tampaknya begitu bersemangat selama kepentingan pribadinya tidak terpengaruh. Meskipun demikian, bila terjadi konflik kepentingan, maka semangat dan kegem­bi­raan mereka pun akan lenyap. Karena mereka tidak yakin atas kepastian, situasi semacam ini akan membuat mereka meninjau kembali kewajiban-kewajiban yang dituntunkan dalam ajaran agama Islam. Mereka lupa bahwa Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian, bahwa Allah akan menguji manusia melalui berbagai macam bentuk, baik yang tampaknya baik ataupun buruk, dan bahwa hanya mereka yang istiqamah sajalah yang akan mendapat­kan pahala. Penyakit yang ada di dalam hati mereka membuat mereka merasa ragu atas adanya pertolongan Allah. Daripada memper­cayakan nasib mereka kepada Allah, mereka malah jatuh ke lembah keputusasaan dan mulai berpikir yang jelek-jelek terhadap Allah. Dengan demikian, maka penyakit yang tersembunyi di dalam hati mereka pun men­jadi tampak ke permukaan. Di dalam al-Qur’an, Allah menggambarkan bagaimana mereka kehilangan semangat secara tiba-tiba ketika menghadapi cobaan dan mulai meragu­kan janji Allah:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang muna­fik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya’.” (Q.s. al-Ahzab: 12).

Sikap ini tentu saja karena adanya keku­rangan dalam iman mereka. Orang-orang seperti ini tidak dapat memahami bahwa apa saja yang mereka hadapi sesungguhnya me­mang dibuat untuk menguji mereka. Mereka yang hatinya berpenyakit berbeda dengan orang-orang beriman yang dengan sikap tulus ketika sedang menghadapi ujian-ujian sema­cam itu. Orang-orang beriman menjadi semakin bersemangat dan merasa damai dengan menggantungkan keper­cayaan mere­ka kepada Allah, apa pun yang akan menimpa mereka, dan mengetahui bahwa pertolongan Allah senantiasa dekat.

¨ Mereka yang Tinggal di Belakang

Orang-orang yang memperlihatkan kecen­derungan munafik mempunyai pemikiran yang benar-benar berbeda dengan orang-orang beriman serta sangat jauh dari al-Qur’an. Karena cacatnya keyakinan mereka, pemikiran tidak didasarkan pada bagaimana caranya menggapai keridhaan Allah namun semata-mata dalam rangka untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri dan mengambil keuntungan pribadi. Karena alasan inilah mereka menganggap bahwa menyibukkan diri dalam amal-amal Islami merupakan suatu hal yang sia-sia. Karena keimanan mereka kepada akhirat agak samar-samar, mereka berpendapat bahwa amal-amal yang dilaku­kan untuk akhirat tidak membawa keuntung­an yang memadai sebagai ganjaran dari semua kerja dan keletihan mereka. Dengan demi­kian, mereka punya pikiran bahwa lebih meng­untungkan untuk mencurahkan waktu mereka guna memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi yang segera daripada memberikan manfaat-manfaat kepada Islam. Karena takut tertipu, mereka lebih suka terta­han di belakang mengambil sikap “moderat”, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran).” (Q.s. an-Nisa’: 72).

Pendek kata, mereka tidak bersemangat terhadap apa saja yang tidak memberikan keuntungan-keuntungan duniawi yang nyata kepada mereka.

Ketika dihadapkan pada situasi yang mem­butuhkan usaha-usaha demi kepen­tingan mereka yang membutuhkan, mereka yang tertindas atau orang-orang beriman, mereka mundur ke belakang. Senan­tiasa meng­­ajukan uzur, mereka berupaya untuk membuatnya sangat sulit. Karena mereka tidak hidup dengan agama, mereka kekurang­an motivasi dan energi untuk meme­cahkan masalah atau menyelesaikan suatu pekerjaan yang baik. Mereka memperlihatkan sikap enggan, baik dengan cara menarik diri secara tiba-tiba dan meninggalkan orang-orang beriman dalam kesukaran atau dengan bekerja secara apatis.

Meskipun demikian, apabila orang yang lalai ini diberi tawaran untuk menduduki suatu posisi yang bergengsi di sebuah perusa­haan dengan gaji yang tinggi dan selanjutnya ia juga dijanjikan bahwa nantinya juga akan menjadi pemegang saham, maka ia pun mem­perlihatkan kinerja yang luar biasa, sikapnya akan sangat berbeda. Tidak diragukan lagi, menimbang keuntungan-keuntungan dari posisi itu, ia akan menunjukkan semangat yang luar biasa dalam kerjanya dan dengan cepat mampu memberikan penyelesaian-penyelesaian masalah yang memuaskan. Ada perbedaan yang mencolok antara keengganan orang-orang ini ketika diharapkan untuk be­ker­ja demi kepentingan Islam, dan sema­ngat yang mereka tunjukkan ketika kepen­tingan mereka dipertaruhkan. Karena mereka lebih suka pada manfaat-manfaat duniawi diban­ding­kan keridhaan Allah inilah yang menye­babkan sikap mereka berubah-ubah demikian itu.

¨ Tinggal di Belakang Tidak Meng­un­tungkan Namun Suatu Kebodohan

Tentu saja, keengganan dari mereka yang di dalam hatinya ada penyakit ini meng­ung­kapkan betapa besarnya kebohongan di dalam kehidupan mereka. Tidak dapat berjuang untuk mencapai keridhaan Allah adalah suatu kerugian, karena usaha apa pun yang dicurah­kan di jalan Allah akan mendatangkan keun­tungan terbesar yang mungkin dicapai. Setiap amal yang dikerjakan oleh seseorang dengan ikhlas akan mendatangkan keridhaan Allah. Allah menjanjikan memberi yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya, baik ketika masih berada di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seorang mukmin yang saleh tidak bersemangat karena ia meng­harap balasan yang segera di dunia ini. Me­nge­tahui bahwa Allah ridha dengan amal yang dilakukannya saja sudah cukup baginya. Allah, pemilik keadilan, cinta, kasih sayang dan keagungan yang abadi, senantiasa siap dalam memberikan penghargaan atas amal-amal yang dikerjakan di Jalan-Nya, dan menyatakan bahwa amal apa saja, sekalipun hanya sebesar biji sawi atau atom, tidak akan disia-siakan:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Q.s. an-Nisa’: 40).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

“(Luqman) berkata: ‘Hai anakku, sesung­guhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Luqman: 16).

Sungguh suatu hal yang sangat tidak bijaksana bersikap enggan dalam menjalan­kan amal-amal saleh karena semakin serius seseorang beramal, semakin besar ganjaran yang diterimanya baik di dunia ini dan di akhirat nanti. Demikian pula, semakin ia lalai, semakin rugi pulalah dirinya.

AKIBAT-AKIBAT BERAMAL DENGAN TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH

Sebagian besar orang menganggap bahwa kelalaian yang diperlihatkan banyak orang untuk hidup dengan prinsip-prinsip Islam sebagai suatu hal yang biasa saja. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak berupaya sungguh-sungguh untuk menghilangkan sikap ini. Sungguh, mereka tidak merasakan adanya bahaya yang dapat menyeret seseorang ke dalam kerugian yang sangat besar untuk selama-lamanya. Namun di dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan akan bahaya penyakit ini dan bahayanya. Di akhirat nanti tidak seorang pun akan diberi kesempatan untuk membela diri atas kerugian yang diakibatkan oleh kelalaiannya. Ada gunanya di sini untuk meng­garisbawahi beberapa kerugian yang diderita oleh orang-orang yang lalai:

Di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

“Sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesung­guhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Q.s. al-Hajj: 40).

Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang benar-benar berpegang teguh pada agama dan hanya mencari keridhaan-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang berpen­dirian bahwa menarik diri atau tinggal di belakang itu lebih bermanfaat, maka mereka tidak akan memperoleh pertolongan Allah. Orang-orang seperti ini tidak akan mendapat­kan hikmah atau kejernihan hati nurani. Mereka tidak dapat meningkatkan kegairah­annya yang berlandaskan pada iman yang lurus. Karena mereka mengerjakan sebagian perin­tah al-Qur’an dan meninggalkan sebagi­an lain­nya, mereka tidak memperoleh petun­juk kepada jalan yang benar. Keputusan dan perilaku mereka berdasarkan pada pemikiran jahil yang tidak dapat membantu mereka untuk memperoleh keberhasilan hakiki.

Hati mereka yang lalai menyebabkan pikiran mereka dalam keadaan malas dan lalai. Mereka menjadi malas, dan karena tidak melakukan usaha yang sung­guh-sungguh untuk melakukan perbuatan yang memasuk­kan mereka ke dalam surga, mereka tidak per­nah menyelesaikan tugas dalam waktu yang tepat. Mereka tidak mem­punyai alasan untuk segera menye­le­saikan tugas atau mengerah­kan energi secara fisik maupun mental. Jika menghadapi suatu masa­lah, mereka tidak mam­pu mengatasinya dengan teguh, sekali­pun barangkali memiliki kemampuan untuk menemukan banyak penyelesaian. Singkat­nya, pekerjaan-pekerjaan orang-orang yang tidak berse­mangat itu biasanya tidak produk­tif dan tidak membuahkan hasil. Apa pun uzur yang mere­ka ajukan, sesungguhnya adalah karena mere­ka tidak memiliki sema­ngat dan kegem­biraan atas iman.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa orang-orang yang memiliki penyakit sema­cam itu membuat kerugian paling besar kepada diri mereka sendiri, karena lepas dari apa pun kerugian yang mereka derita di dunia ini, mereka pun akan mengalami kekecewaan di akhirat kelak. Kemudian mereka akan me­nyesal, karena tidak termasuk ke dalam golong­an orang-orang yang dimuliakan:

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu!’, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Q.s. al-An‘am: 31).

Di akhirat mereka akan melihat bahwa apa yang mereka kerjakan dahulu secara berpura-pura atau telah mereka hindari seluruhnya telah mendatangkan kerugian kepada mereka. Demi­kian pula, mereka akan menyaksikan bahwa apa pun yang telah mereka tunaikan tidak berguna, karena mereka dahulu tidak mampu memahami pentingnya mencapai keridhaan Allah dan tidak melakukan amal yang dibutuhkan untuknya. Pendek kata, apa pun yang telah mereka kerjakan akan menjadi sia-sia.

“Dan orang-orang beriman akan mengatakan: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?’ Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.” (Q.s. al-Ma’idah: 53).

“Yang demikian itu adalah karena sesung­guhnya mereka mengikuti apa yang menim­bulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Q.s. Muham­mad: 28).

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudha­rat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal me­reka.” (Q.s. Muhammad: 32).

“Banyak muka pada hari itu tunduk ter­hina. Bekerja keras lagi kepayahan.” (Q.s. al-Ghasyiyah: 2-3).1

Selanjutnya, pada saat pengadilan nanti orang-orang ini akan menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kiri, sekalipun mereka berharap bahwa mereka akan meneri­manya dengan tangan kanan. Mereka me­nyang­ka bahwa dengan hidup di tengah-tengah orang-orang beriman semasa masih di dunia dahulu, akan mendatangkan kesela­matan bagi mereka di akhirat nanti. Meskipun demikian, sebagaimana disebutkan sebelum­nya, setiap orang akan diberikan catatan amalnya satu per satu di hadapan Allah. Semangat dan amal saleh dari orang-orang lain tidak akan men­datangkan kebaikan apa pun kepada mereka. Pada hari itu orang-orang yang dahulunya lalai akan berseru kepada orang-orang beriman:

“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” (Q.s. al-Hadid: 14).

Namun, akan dikatakan kepada mereka:

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sen­diri pada waktu ini sebagai penghisab terha­dapmu.” (Q.s. al-Isra’: 14).

Kemudian mereka akan melihat kenyataan apa yang dahulunya telah mereka peroleh dan menyadari akan semua yang telah mereka abaikan. Selanjutnya, mereka akan mengakui bahwa diri mereka memang pantas menda­pat­kan balasan yang memang patut untuk mereka terima.

CARA MENGATASI KELOYOAN

¨ Satu-satunya Cara agar Tidak Loyo: Takwa kepada Allah

Seseorang yang memahami bahwa akar dari kelalaian ini (suatu penyakit peri­laku yang berbahaya) terletak pada kelemahan iman, hendaknya segera beralih kepada metode-metode yang telah diajarkan di dalam al-Qur’an guna menyembuhkan dirinya sen­diri dari penyakit ini. Pertama-tama, ia mesti menyadari bahwa sumber kekuatan yang utama adalah kesadaran terhadap Allah dan mengerahkan upaya-upaya untuk menca­pai­nya. Melalui perenungan yang dalam ia harus berjuang mencapai keimanan yang dalam pula. Ia mesti berdoa kepada Allah dan memo­hon pertolongan-Nya, sambil tidak ragu-ragu melakukan apa saja yang dapat memperbaiki keadaannya.

Tidak diragukan, dalam keadaan demikian ini seseorang perlu menggunakan akalnya. Di dalam al-Qur’an, Allah menunjukkan bahwa menggunakan akal adalah cara yang dapat membimbing seseorang untuk menuju ke jalan yang benar. Seseorang mesti memi­kirkan wujud dan kebesaran Allah, kasih sayang-Nya kepada umat manusia, dan selanjutnya mema­hami pentingnya berupaya untuk menggapai keridhaan-Nya. Demikian pula, ia mesti memi­kirkan tujuan ia dicipta­kan dan bagai­mana Allah mengujinya. Ia mesti menyadari bahwa Allah bersamanya dan senantiasa melihat dan mendengarnya. Ia harus senan­tiasa mengingat bahwa apa pun yang dikerja­kannya, entah itu dianggap penting atau sepele, diketahui oleh Allah dan bahwa kelak ia akan dimintai pertanggung­jawaban atas apa-apa yang dikerjakannya pada Hari Peng­adilan nanti.

Ia juga harus mengingat bahwa kematian sangat dekat dan dapat mendatanginya secara tiba-tiba. Lagi pula, ia mesti memahami ke­nya­taan bahwa hidup di dunia ini singkat saja dan bahwa menyibukkan diri untuk melaku­kan amal-amal kebajikan agar mendapat surga merupakan hal yang sangat penting.

Ia hendaknya merenungkan betapa indah­nya surga dan kesenangan luar biasa dari ber­bagai macam kenikmatan yang ada di sana, dan berupaya untuk memahami konsep ke­abadian. Ia hendaknya menyadari bahwa neraka adalah sebuah tempat yang diciptakan hanya untuk memberikan kesengsaraan kepa­da tubuh dan jiwa manusia; tak ada hal-hal yang baik, menggembirakan dan menyenang­kan di sana, dan para penghuninya akan ting­gal di sana untuk selama-lamanya. Ia harus menyadari bahwa ia akan dirundung penye­sal­an yang mendalam setiap saat dalam kehi­dupan abadinya nanti bila ia tidak meng­indah­kan peringatan ini dengan serius.

Jika seseorang memikirkan dengan serius, tentulah ia akan sampai pada kesimpulan yang tepat. Ia akan melihat bahwa daripada menemui akhir seperti itu, adalah lebih mu­dah bila mengikuti suara hatinya dan berpe­gang teguh kepada agama secara sungguh-sungguh. Dengan begitu, ia akan membuat kepu­tusan yang tepat dan mencurahkan sege­nap kehidupannya — tidak lebih dari bebe­rapa dasawarsa saja — untuk mencapai keri­dhaan Allah, kasih sayang dan rahmat-Nya, dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh surga yang dijanjikan oleh Allah.

Merenungkan kemungkinan untuk berada di neraka walau hanya sesaat saja menye­bab­kan seseorang mengubah tingkah lakunya karena neraka adalah tempat dimana rasa sesal di dunia ini dapat dibandingkan dengan rasa sesal yang dirasakan di sana. Demikian pula, tak ada rasa sakit di dunia ini yang lebih berat daripada rasa sakit di neraka. Dengan mem­baca ayat-ayat yang berkenaan dengan neraka, dalam rangka memperoleh sebuah pemaham­an yang utuh tentangnya sebagai sesuatu yang mesti dihindari adalah cara yang efektif agar menjadi lebih bersemangat.

Setiap orang hendaknya memikirkan fakta-fakta ini dan menyadari bahwa kurangnya semangat adalah hasil dari penyimpangan cara pandang atas dunia ini dan akhirat, dan selanjutnya mulai menyibukkan diri dengan amal-amal saleh sesegera mungkin. Ia harus ingat bahwa kelalaian yang ditunjukkannya dalam menghadapi kejadian-kejadian di seputar dirinya dapat menyebabkannya, pada saat itu, kehilangan kepekaan hati nurani­nya secara menyeluruh. Dengan demikian, ia harus segera menghindari kondisi semacam itu:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenar­an yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang yang sebe­lumnya telah diturunkan al-Kitab kepada­nya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.s. al-Hadid: 16).

Pada ayat lain Allah juga mengingatkan tentang mengerasnya hati:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerja­kan.” (Q.s. al-Baqarah: 74).

Pada ayat di atas Allah telah memberikan sebuah contoh mengenai bebatuan yang darinya muncul air dan bebatuan lainnya yang pecah berantakan karena takut kepada-Nya. Takut kepada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam contoh ini, akan mem­buat orang-orang yang tidak bersemangat menjadi bersemangat, dan membimbing mereka untuk menerapkan nilai-nilai kesa­lehan sehingga mereka dapat berlomba-lomba dalam kebajikan di jalan Allah.

KHATIMAH

Seluruh buku ini telah membahas bagai­mana orang-orang beriman dengan sung­guh-sungguh menjalani kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip agama, bagai­mana mereka memperoleh kesenangan dari perjuangan mereka, dan bagaimana mereka akan menda­pat­kan ganjaran dengan karunia dan kehor­matan yang besar di mata Allah. Perhatian dicurahkan pada intensitas, kete­guh­an, dan keberanian yang ditimbulkan oleh semangat kepada orang-orang beriman. Yang juga berhubungan dengan ini adalah betapa ayat, “.... padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139). Merupakan manifestasi bagi mereka yang berjuang dengan ikhlas.

Demikian pula telah digambarkan, kega­gal­an bagi mereka yang tidak berjuang dengan sungguh-sung­guh dan tertinggal di belakang, sekalipun mereka benar-benar mengetahui adanya Allah dan akhirat. Juga dijelas­kan ke­ru­gi­an yang akan mereka derita dan besarnya penyesalan yang akan mereka rasa­kan serta ratapan mereka, “Seandainya aku dahulu termasuk orang-orang yang memeluk agama ini dengan penuh kesungguhan...” Mereka telah diingatkan bahwa mereka dapat saja termasuk orang-orang yang hidupnya sia-sia dan telah diseru agar supaya beriman dengan sepenuh hati sementara mereka masih memi­liki waktu. Mereka yang hidup di tengah orang-orang beriman dan membaca al-Qur’an, namun menunjukkan karakter yang berbeda dengan orang-orang beriman telah diserukan agar beriman dengan tulus dan beramal dengan sungguh-sungguh.

Telah diingatkan mengenai kabar gembira, yaitu kasih sayang Allah bagi mereka yang memeluk Islam, sementara bagi mereka yang hidup di tengah-tengah orang-orang beriman dan melihat dari jarak dekat kesem­purnaan nilai-nilai al-Qur’an dan agama Allah namun tidak menanggapinya, maka mereka diingat­kan agar berhati-hati bahwa kehidupan mere­ka nantinya akan berakhir dengan kerugian yang amat besar. Sebagai­mana firman Allah di dalam al-Qur’an:

“Maka perhatikanlah bagaimana kesu­dahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Q.s. ash-Shaffat: 73).

Sekali lagi, semua orang yang berakal diingatkan agar supaya mendengarkan suara hati nurani mereka dan bersungguh-sungguh menanggapi panggilan Allah. Ini karena manu­sia hanya punya kesempatan untuk hidup di dunia ini sekali saja. Dengan demi­kian, ia hanya akan diuji sekali saja. Begitu maut datang menjemputnya, tidak ada lagi kesempatan kedua.

Kehidupan di dunia ini berlalu “sekejab mata”. Dalam kehidupan sekarang ini bila sese­orang mengikuti nuraninya dan menge­rahkan daya kehendaknya untuk waktu yang terbatas ini, ia akan menikmati karunia yang dianugerahkan oleh Allah untuk selama-lamanya. Namun bila ia berpaling dari agama yang hak, dan berkata, “Aku lebih suka menu­ruti hawa nafsuku,” ia akan kehilangan karu­nia abadi sebagai harga yang harus dibayarnya untuk kehidupan yang singkat dan tidak sempurna ini, dimana hal ini adalah pertukar­an yang tidak menguntungkan dan tidak bijaksana.

Satu-satunya hal yang bijak untuk dikerja­kan adalah menghentikan obsesi atas kehi­dup­an dunia ini dan mencari pahala untuk akhirat. Karena begitu seseorang bertemu dengan malaikat maut, ia tidak akan punya waktu untuk berpikir atas kesenangan-kese­nang­an yang dinikmatinya di dunia ini atau pun hal-hal yang dianggapnya begitu penting. Begitu nyawa sampai di tenggorokan, ia tidak akan ingat lagi pada kesenangan-kesenangan yang pernah dirasakannya dalam kehidupan di dunia ini dan hanya akan menghadapi teror Hari Pengadilan.

Meskipun demikian, bila seseorang mencu­rahkan hidupnya untuk Allah dan dengan penuh gairah memeluk Islam, tidak ada alasan baginya untuk merasa takut terhadap siksaan dan akan mendapatkan kedamaian hati dan pikiran karena catatannya bersih. Dengan tidak merasa takut, pada hari itu ia akan berkata dengan gembira:

“Maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku ini’.” (Q.s. al-Haqqah: 19).

Sementara sekarang masih ada waktu untuk mendapatkan akhir kehidupan yang penuh karunia, mengapa seseorang malah memilih untuk merasa takut diungkapkannya catatan amalnya kelak dan menderita penye­sal­an serta siksa yang kekal? Satu-satunya hal yang diperlukan untuk mendapatkan akhir kehidupan yang berbahagia adalah dengan mengikuti hati nurani dan hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara tulus dan penuh gairah. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kedamaian dan memperoleh kesenangan di dunia ini dalam arti yang sebenarnya adalah dengan cara hidup ini. Jika seseorang lebih suka menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan yang sifatnya material, ia akan segera menyadari bahwa ia tidak mem­peroleh apa-apa darinya.

Itulah sebabnya mengapa buku ini menye­ru kepada semua orang untuk menggunakan pertimbangan hati nuraninya. Mereka dido­rong bukannya untuk menganggap bahwa apa pun amalan yang telah mereka kerjakan seja­uh ini sudah cukup untuk dijadikan bekal ter­baik di akhirat nanti namun agar supaya terus beramal dengan semangat, kesabaran, dan usaha seperti para nabi. Mereka diseru untuk berlomba-lomba menjadi orang yang paling unggul dalam berpacu mencapai keridhaan Allah, mencapai surga dan kasih sayang yang abadi. Allah memuji mereka yang memeluk Islam dengan penuh semangat dan menjan­jikan mereka taman-taman di surga yang dipenuhi dengan berbagai kenikmatan:

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (Q.s. al-Waqi‘ah: 10-4).


1Para ulama menjelaskan, penyakit ini sebagai sikap munafik atau kafir.

2Kastamonu Lahikas, hal. 37.

1The Rules of Struggle, hlm. 45.

2Pada hari pengadilan.

3Mereka yang berhijrah dari Mekkah dan tinggal di Madinah karena Islam.

4Penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan menolong Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang berhijrah ke sana.

1Yang kedua adalah Abu Bakar r.a., sahabat Nabi.

1Ke tempat di mana cahaya itu diperoleh, yakni semasa hidup di dunia.

1Yaitu mereka mengerjakan amal yang semasa hidupnya di dunia tidak memberikan manfaat apa pun kepada mereka, karena tidak disertai keimanan atau dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.